Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Jembut Lebat Yang Membuat Nafsu Ku Terbakar

Jembut Lebat Yang Membuat Nafsu Ku Terbakar

Jembut Lebat Yang Membuat Nafsu Ku Terbakar

CERITADEWASAINDONESIA – Aku ikut dalam acara reality show di salah satu tv swasta. Presenternya, Widya, sangat seksi. aku napsu sekali melihatnya. Selama show, bodinya yang bahenol terbungkus dengan tank top ketat dan jeans yang juga ketat. Toketnya yang besar tampak sangat menonjol. Pantatnya yang besar juga tampak sangat menggairahkan.Karena tank topnya sepinggang, puser dan pinggangnya sering terlihat karena dia sangat aktif bergerak.

Acara tersebut adalah acara mencari pasangan. Pada satu kesempatan, aku berkata pada Widya : “Aku sih milih Widya aja deh boleh gak. Dari pertama kita ketemu, aku sudah tertarik dengan kamu Nes”. “Kan Widya host nya, gak termasuk dalam prempuan yang mencari pasangannya. Mas boleh milih Widya, Sintia atau yang lainnya”. “Enggak ah, aku milih Widya aja yach”. “Kalo gitu kita omongin diluar acara aja ya mas, macem2 aja si mas teh”, katanya sambil tersenyum. Ketika sampai waktunya harus menentukan aku tidak memilih siapapun

Jembut Lebat Yang Membuat Nafsu Ku Terbakar

Widya hanya tersenyum ketika aku menyatakan alasanku tidak memilih, “Kan aku maunya milih Widya tapi gak bisa”. Selesai acara yang diselenggarakan disalah satu resort diluar kota, aku nungguin Widya. Lama juga aku nunggunya, akhirnya dia keluar juga dari resort, masih memakai pakaian seksinya. “Widya pulang ama siapa?”, tanyaku. “Sendiri mas, mas mo nganterin Widya pulang”, dia minta to the point. “Bole banget, tapi pulangnya ke tempatku ya”. “Mo ngapain di tempat mas”. “Aku mo ngobrol ama Widya, belum puas ngobrolnya sih”.

“Belum puas ngobrolnya atau mo ngepuasin yang lainnya mas?”, katanya nantangin. “Kalo aku minta dipuasin yang lainnya, Widya mo muasin aku gak”, langsung kujawab, to the point juga. “Bisa diatur”, kata Widya sambil masuk ke mobilku. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul, Widya sangat open. Dia crita petualangan sexnya dengan banyak lelaki, terutama dengan yang bukan abg. Dia bilang sudah sebulan ini dia gak kencan ama lelaki. “Wah, kalo gitu kamu dah napsu banget dong Nes. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan Widya”.

“Bisa diatur kok mas”. Selama perjalanan, aku mengelus pahanya, dari luar jeans ketatnya tentunya. “Ih, si mas, dah napsu sama Widya ya”. “Kalo napsu sih dari tadi Nes”. “Kalo dah napsu artinya dah ngaceng ya mas”, katanya sambil mengelus selangkanganku. “Ih, kayanya besar ya mas, keras lagi”, dia mulai meremas selangkanganku. “Widya mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya”. Dia segera menurunkan ritsluiting celanaku dan tangannya masuk ke dalam cd ku merogoh kontolku. “Ih besar banget mas, panjang lagi.

Widya belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini”, katanya sambil mengeluarkan kontolku. Segera dikocok2nya batangnya. Lalu Widya menunduk dan mengemut kepala kontolku. “Nes, diisep sampe aku ngecret dong”. “Tempatnya sempit mas, Widya kocok aja yach. Nonok Widya jadi basah mas, dah kepingin kemasukan kontol gede mas”, dia mulai mengocok kontolu keatas dan kebawah. Aku jadi melenguh kenikmatan. “Masih jauh mas, tempatnya”. “Enggak kok Nes, sebentar lagi sampe”, kataku sambil mempercepat lajunya kendaraanku.

Tak lama kemudian, sampailah kami dirumah milik kantorku. Aku belum ngecret dan Widya menyudahi sepongannya. “Mas, besar banget rumahnya kaya kontol mas aja besar, punya mas ya”. “Bukan Nes, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach”. Kami menuju ke bagian belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang bisa ngintip.

Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, Widya duduk disebelahku. Aku memeluknya. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku.

Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu lehernya seiring telapak tanganku meraup toketnya.

Widya menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati lehernya yang jenjang. “Maas….” Widya memegang tanganku yang sedang meremas toketnya dengan penuh napsu. Bukan untuk mencegah, karena dia membiarkan tanganku mengelus dan meremas toketnya yang montok. “Nes, aku ingin melihat toketmu”, ujarku sambil mengusap bagian puncak toketnya yang menonjol.

Dia menatapku. Widya akhirnya membuka tank top ketatnya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap toketnya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketnya begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Widya membuka pengait BH-nya di punggungnya.

Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Widya ketika dia mencoba untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketnya semakin menantang. “Toketmu bagus, Nes”, aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya.

Mata Widya terpejam. Perhatianku terfokus ke pentilnya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin dengan jemariku. Widya mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi toketnya. “Egkhh..” rintih Widya ketika mulutku melumat pentilnya. Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat Widya menarik rambutku. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, aku mencium toket Widya yang satunya yang belum sempat kunikmati.

Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulut Widya. Sambil menciumi toket Widya, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Widya. Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba nonok nya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Widya. Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping dipan.

Widya tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka kancing jeans warna hitamnya. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Widya yang tergolek di dipan, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas memandang tubuh Widya, aku lalu membaringkan tubuhku di sampingnya.

Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Widya. Kubelai lagi toketnya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Widya menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Widya yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Widya yang masih tertutup CDnya. jari tengah tanganku membelai permukaan CDnya tepat diatas nonok nya, basah.

Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Widya. Pinggul Widya perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya. aku menyuruh Widya untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Widya menurunkan reitsliting celana jeansnya. CD hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh di sekitar nonok nya hampir sebagian keluar dari pinggir CDnya.

Aku membantu menarik turun celana jeans Widya. Pinggulnya agak Widyaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans Widya. Akupun melepas pakeanku. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Kami berpelukan. Dia menyentuh kontolku dari luar CD ku. Widya melorotkan CD ku. Langsung kontolku yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk dibelai dan digenggamnya.

Belaiannya begitu mantap menandakan Widya juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini. “Tangan kamu pintar juga ya, Nes,”´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok kontolku. “Ya, mesti dong!” jawabnya sambil cekikikan. Jari-jariku masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit nonok Widya yang sudah basah. Telunjukku membelai-belai itilnya sehingga Widya keenakan. “Diisep lagi Nes. Kan sekarang lebih leluasa” kataku. Widya tertawa sambil mencubit kontolku.

Aku meringis. “”Nggak muat di mulut Widya, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih kontolnya” selesai berkata demikian Widya langsung tertawa kecil. “Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?” tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam nonok nya. Widya merintih sambil memegang tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang nonok nya. Aku merasakan nonok nya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau kontolku yang diurut, pikirku. Segera CD nya kulepaskan.

Perlahan tanganku menangkap toketnya dan meremasnya kuat. Widya meringis. Diusapnya lembut kontolku yang sudah keras banget. Tangannya begitu kreatif mengocok kontolku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, tanganku membelai-belai toketnya yang montok.

Kupermainkan pentilnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar nonok Widya. kuraba permukaan nonok Widya. Jari tengahku mempermainkan itilnya yang sudah mengeras. kontolku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan Widya, sementara nonok Widya juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok nonok nya. Kupeluk tubuh Widya sehingga kontolku menyentuh pusarnya.

Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. Widya membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Widya, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu aku menaiki tubuhnya. Kaki Widya dengan sendirinya mengangkang. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat toketnya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh Widya.

Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan kontolku ke bibir nonok nya. Widya mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Widya menatapku, matanya penuh nafsu seakan memohon kepadaku untuk memasuki nonok nya. “Aku ingin mengentoti kamu, Nes” bisikku pelan, sementara kepala kontolku masih menempel di belahan nonok Widya. Kata ini ternyata membuat wajah Widya memerah.

Widya menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun kontolku yang perlahan menyusup ke dalam nonok Widya. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti kontolku membelah nonok nya yang ternyata begitu kencang menjepit kontolku. nonok nya begitu licin hingga agak memudahkan kontolku untuk menyusup lebih ke dalam. Widya memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli. “Maas, gede banget, ohh..” Widya menjerit lirih.

Tangannya turun menangkap kontolku. “Pelan mas”. Akhirnya kontolku terbenam juga di dalam nonok Widya. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding nonok Widya. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir Widya sambil perlahan-lahan menarik kontolku untuk selanjutnya kubenamkan lagi. Aku menyuruh Widya membuka kelopak matanya. Widya menurut.

Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati kontolku yang keluar masuk dari dalam nonokya. “Aku suka nonokmu, Nes.. nonokmu masih rapet” ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, nonok Widya enak sekali. “Kamu enak kan, Nes?” tanyaku lalu dijawab Widya dengan anggukan kecil. Aku menyuruh Widya untuk menggoyangkan pinggulnya. Widya langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. “Suka kontolku, Nes?” tanyaku lagi. Widya hanya tersenyum. kontolku seperti diremas-remas ditambah jepitan nonok nya. “Ohh.. hh..” aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat.

Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan kontolku ke dalam nonok Widya. Kuperhatikan kontolku yang keluar masuk dari dalam nonok nya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Widya semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku.

Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Widya yang semakin tidak terkendali. “Nes.. enak banget, kamu pintar deh.” ucapku keenakan. “Widya juga, mas”, jawabnya. Widya merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, “aduh” yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan nonok Widya semakin berdenyut sebagai pertanda Widya akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami.

Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Widya hampir nyampe. Kuremas toketnya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit pentilnya. Kuhisap dalam-dalam. “Ohh.. hh.. mas..” jerit Widya panjang. Aku membenamkan kontolku kuat-kuat ke nonok nya sampai mentok agar Widya mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat terbenam diantara toketnya.

Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. “Nes, aakuu.. keluaarr, Ohh.. hh..” jeritku. Widya yang masih merasakan orgasmenya mengunci pinggangku dengan kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan peju hangat dari kontolku. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan Widya juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada Widya kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya.

Telapak tanganku mencengkram toket Widya. Kuraup semuanya sampai-sampai Widya kesakitan. Aku tak peduli lagi. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Widya pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Widya. kontolku masih berada di dalam nonok Widya. Widya mengusap-usap permukaan punggungku. “Widya puas sekali dientot mas,” katanya. Aku kemudian mencabut kontolku dari nonok nya.

Aku masuk kembali ke rumah. Widya langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku bisa mendengarnya karena pintu kamar mandi tidak ditutup. Tak lama kemudian, shower terdengar berhenti dan Widya keluar. Ganti aku yg masuk ke kamar mandi, aku hanya membersihkan tubuhku. Keluar dari kamar mandi, Widya berbaring diranjang telanjang bulat. “Nes, kamu kok mau aku ajak ngentot”, kataku.

“Kan Widya dah lama gak ngerasain nikmatnya kontol mas, kontol mas besar lagi”, jawab Widya tersenyum. “Malem ini kita men lagi ya mas”. Hebat banget Widya, gak ada matinya. Pengennya dientot terus. “Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, kataku sambil berpakaian. Widya pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu.

Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Tangan Widya bergerak menggenggam kontolku. Aku melenguh seraya menyebut namanya. Aku meringis menahan remasan lembut tangannya pada kontolku. Widya mulai bergerak turun naik menyusuri kontolku yang sudah teramat keras.

Sekali-sekali ujung telunjuknya mengusap kepala kontolku yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali aku melenguh merasakan ngilu akibat usapannya. Kocokannya semakin cepat. Dengan lembut aku mulai meremas-remas toketnya.

Tangan Widya menggenggam kontolku dengan erat. Pentilnya kupilin2. Widya masukan kontolku kedalam mulutnya dan mengulumnya. Aku terus menggerayang toketnya, dan mulai menciumi toketnya. Napsuku semakin berkobar. Jilatan dan kuluman Widya pada kontolku semakin mengganas sampai-sampai aku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutnya. Aku membalikkan tubuhnya hingga berlawanan dengan posisi tubuhku. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku.

Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahku menyentuh nonok nya dengan lembut. Tubuhnya langsung bereaksi dan tanpa sadar Widya menjerit lirih. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahku di nonok nya. Kedua pahanya mengempit kepalaku seolah ingin membenamkan wajahku ke dalam nonok nya. Kontolku kemudian dikempit dengan toketnya dan digerakkan maju mundur, sebentar. Aku menciumi bibir nonok nya, mencoba membukanya dengan lidahku. Tanganku mengelus paha bagian dalam. Widya mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakinya yang tadinya merapat.

Aku menempatkan diri di antara kedua kakinya yang terbuka lebar. Kontol kutempelkan pada bibir nonok nya. Kugesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Widya merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. nonok nya yang sudah banjir membuat gesekanku semakin lancar karena licin. Widya terengah-engah merasakannya. Aku sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala kontolku menggesek-gesek itilnya yang juga sudah menegang. “Maas.?” panggilnya menghiba. “Apa Nes”, jawabku sambil tersenyum melihatnya tersiksa. “Cepetan..” jawabnya. Aku sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontol. Sementara Widya benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahinya. “Widya sudah pengen dientot mas”, katanya. Widya melenguh merasakan desakan kontolku yang besar itu.

Widya menunggu cukup lama gerakan kontolku memasuki dirinya. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, kontolku juga panjang. Widya sampai menahan nafas saat kontolku terasa mentok di dalam, seluruh kontolku amblas di dalam. Aku mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam nonok nya membuat kontolku keluar masuk dengan lancarnya. Widya mengimbangi dengan gerakan pinggulnya. Meliuk perlahan.

Naik turun mengikuti irama enjotanku. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting enjotanku mencapai bagian-bagian peka di nonok nya. Widya bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Kontolku menjejali penuh seluruh nonok nya, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan kontolku sangat terasa di seluruh dinding nonok nya.

Widya merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Widya mengakui keperkasaan dan kelihaianku di atas ranjang. Yang pasti Widya merasakan kepuasan tak terhingga ngentot denganku. Aku bergerak semakin cepat. kontolku bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitivenya. Widya meregang tak kuasa menahan napsu, sementara aku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulku naik turun, ke kiri dan ke kanan. Erangannya semakin keras. Melihat reaksinya, aku mempercepat gerakanku. kontolku yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat.

Aku pun demikian. Widya meraih tubuhku untuk didekap. Direngkuhnya seluruh tubuhku sehingga aku menindih tubuhnya dengan erat. Widya membenamkan wajahnya di samping bahuku. Pinggul nya diangkat tinggi-tinggi sementara kedua tangannya menggapai pantatku dan menekannya kuat-kuat. Widya meregang. Tubuhnya mengejang-ngejang. “maas..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saking dahsyatnya kenikmatan yang dialaminya bersamaku. Aku menciumi wajah dan bibirnya.

Widya mendorong tubuhku hingga terlentang. Dia langsung menindihku dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhku. Kembali diemutnya kontolku yang masih tegak itu. Lidahnya menjilati, mulutnya mengemut. Tangannya mengocok-ngocok kontolku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Widya langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhku. Nonok nya berada persis di atas kontolku. “Akh!” pekiknya tertahan ketika kontolku dibimbingnya memasuki nonok nya. Tubuhnya turun perlahan-lahan, menelan seluruh kontolku. Selanjutnya Widya bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhnya melonjak-lonjak.

Pinggulnya bergerak turun naik. “Ouugghh. Nes.., luar biasa!” jeritku merasakan hebatnya permainannya. Pinggulnya mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tanganku mencengkeram kedua toketnya, kuremas dan dipilin-pilin. Aku lalu bangkit setengah duduk. Wajah kubenamkan ke dadanya. Menciumi pentilnya. Kuhisap kuat-kuat sambil kuremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan.

Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Widya berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulnya. Aku menggoyangkan pantatku. Tusukan kontolku semakin cepat seiring dengan liukan pinggulnya yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. AKu merasa pejuku udah mau nyembur.

Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, Widya pun merasakan desakan yang sama. Widya terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejuku nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri nonok nya. Widya pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam dirinya.

Sambil mendesakan pinggulnya kuat-kuat, Widya berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan denganku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. “maas., nikmaat!” jeritnya tak tertahankan. Widya lemes, demikian pula aku. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam!

Akhirnya kami tertidur kelelahan. Liar sekali Widya diranjang, baru sekali aku nemu abg seliar Widya, tetapi dia telah memberikan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah aku dapatkan dari abg lainnya yang pernah kuentot

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme