Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Istri Di Perkosa Saat Menikmati Liburan

 

CERITADEWASAINDONESIA – Beban pekerjaan dan pikiran yang sumpek membuat Danny (45), yang menjabat sebagai kepala jawatan di sebuah daerah Kabupaten yang cukup maju, memutuskan untuk mengajak Chika (35), istrinya bersama dua anak mereka  Rafin dan Revan, kembar berusia 10 tahun, berlibur ke daerah wisata di luar kota selama sepekan. Dua hari menginap di hotel N di kawasan wisata pantai membuat keluarga Danny sejenak melupakan hiruk pikuk kota.

Di sana setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, berenang, latihan diving, dan mengabadikan kegembiraan mereka sekeluarga menggunakan kamera foto dan handycam. Tapi di hari ketiga, Chika merasa kecapaian dan tidak ikut suami dan dua anaknya bepergian. Ia memilih diam di kamar hotel untuk istirahat. Pagi-pagi benar, Danny, dan Revan-Rafin berangkat untuk menikmati indahnya pulau-pulau kecil di sekitar kawasan wisata itu yang harus ditempuh dengan menyeberang perahu boat selama setengah hari.

“Ya sudah mama tinggal saja di hotel, istirahat.. paling besok kita sudah balik,” kata Danny saat hendak berangkat.

Ia mengerti benar stamina istrinya kurang fit kalau harus menyeberang menggunakan boat. Revan dan Rafin mencium pipi mamanya sebelum pergi. Hotel N tempat mereka menginap jauh dari pemukiman penduduk. Tempatnya memang sangat nyaman untuk berlibur menghilangkan suntuk, dengan rindang pepohonan di sekitar hotel dan panorama pantai yang berpasir putih. Hanya saja, keluarga Danny datang ke sana saat bukan musim libur, dan suasana hotel memang sedang sepi tamu.

Istri Di Perkosa Saat Menikmati Liburan

Ini juga yang membuat pengelola hotel memperlakukan keluarga Danny secara spesial agar mau menginap lebih lama di sana. Sebab mereka menyewa dua kamar, satu untuk mereka dan satunya untuk anak-anak. Chika bangun sekitar pukul 11 siang, badannya sudah lebih segar dengan istirahat yang cukup. Ia lalu mandi dan menyantap sarapan yang diantar sedari pagi.

Chika tergolong wanita cantik yang di usia ke 35 tubuhnya semakin menggairahkan dari segi seksual. Payudaranya 36D dan tubuh tinggi montok berisi dengan pantat yang seksi dibalut kulit putih bersih. Banyak yang bilang wajah dan perawakan Chika mirip artis Mona Ratuliu. Setelah menikmati sarapannya, Chika mencoba rileks di sofa menonton televisi. Chika mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek longgar agar lebih nyaman.

Tayangan kuliner di televisi hampir membuat Chika yang berbaring di sofa terlelap lagi, tapi ketukan pintu kamar menyadarkannya. Wendi (40) dan Joko (28), dua orang petugas Hotel itu berdiri di muka pintu saat Chika membukanya.

“Maaf mengganggu bu,” kata Wendi ramah. Joko berdiri di belakang Wendi.

“Oh nggak apa.. ada apa ya?,” tanya Chika.

“Tadi pagi kami dipesan pak Danny, disuruh memeriksa kemari, katanya ada gangguan kerusakan di shower dan saluran pembuangannya?,” jawab Wendi.

Wendi lalu mengenalkan diri kalau ia dan Joko adalah petugas hotel yang bertanggungjawab jika ada keluhan kerusakan fasilitas hotel.

“Ehm.., oh iya. Tadi sempat ke sini ya? Maaf ya saya bangunnya siangan.. ayo silahkan masuk pak,” Chika baru ingat tadi pagi sempat ngomel-ngomel karena kerusakan di kamar mandi hotel.

Chika menyilakan dua petugas hotel itu masuk. Tak disangka saat itulah niat bejat dua petugas hotel dan kesempatan yang tersedia di saat Chika seorang diri, membuat Chika diperkosa di kamar sewaan keluarganya.

**********************

Pengakuan Chika:

Danny, suami Chika bersama anak mereka, Revan dan Rafin kembali ke Hotel N dua hari kemudian setelah menikmati keindahan pulau-pulau kecil di seberang kawasan pariwisata itu. Malam hari setelah Revan dan Rafin masuk ke kamar mereka dan tidur, Danny mencari tahu apa penyebab istrinya bermuram muka sejak mereka kembali ke Hotel.

“Mama masih sakit ya?, kok diam terus dari tadi,” tanyanya pada Chika.

“Nggak papa, mama sudah sehat. Tapi selama papa dan anak-anak pergi….,” Chika tak melanjutkan ceritanya. Ia tengkurap di ranjang dengan raut sedih, sementara Danny dengan sabar menunggu jawaban istrinya itu.

“Ayo teruskan mama, ada apa sebenarnya?,” Danny penasaran.

“Mama diperkosa pa…mama diperkosa oleh dua petugas hotel ini…dan sekarang mereka sudah kabur,” isak Chika menjadi-jadi.

Chika pun bercerita bagaimana dua petugas hotel itu datang ke kamar untuk memperbaiki shower. Namun saat kamar tertutup, mereka meringkus Chika dan mengikatnya. Mulutnya disumpal kain dan matanya juga ditutup ikatan sapu tangan. Lalu, mereka memperkosa Chika berkali-kali.

“Apa..??,” Danny terkejut bukan main mendengar istri tercintanya digauli secara paksa oleh dua petugas hotel. Ia berusaha menghibur Chika agar tidak trauma, dan berjanji segera melaporkan kejadian itu ke kantor polisi esok harinya.

*********************

Rekaman Handycam

Danny sangat terpukul mendengar cerita istrinya. Setelah menenangkan Chika dan membiarkan ia terlelap, Danny kemudian keluar kamar hotel menuju tepian pantai untuk menyepi sambil merencanakan melaporkan masalah tersebut esok paginya. Tapi, sebelum keluar kamar Danny menemukan handycam milik Revan, anaknya tergeletak di dekat pintu kamar hotel. Handycam itu tidak dibawa ketika Danny bersama dua anaknya melancong ke pulau–pulau kecil dua hari lalu. Ia lalu memungut handycam itu dan membawanya keluar.

Di tepi pantai yang sepi itu, Danny melamun panjang memikirkan nasib keluarganya. Pergi berlibur untuk melepaskan beban dari himpitan kerja dan hiruk pikuk kota, justru membawa problem yang sangat berat dan aib. Tangannya iseng menghidupkan handycam untuk mengambil gambar bintang di langit malam itu. Namun niat ia urungkan karena pita kaset ternyata penuh. Penasaran, Danny kemudian merewind kaset dan memutarnya untuk melihat isinya.

Mata Danny terbelalak saat rekaman handycam tertayang di LCD handycam. Ternyata isinya adalah adegan pemerkosaan yang menimpa Chika, istrinya. Chika dalam keadaan terikat, masing-masing tangannya diikat di pojok sisi ranjang membuat posisi Chika terlentang dengan kaki terbuka.

Ia hanya mengenakan celana dalam dan bra berwarna biru muda, sementara mata dan mulutnya tertutup erat dengan ikatan sapu tangan. Tubuh Chika yang putih mulus meronta-ronta di atas ranjang seolah menuntut dilepaskan. Suaranya hanya ehmmm…ehmmm… seperti berteriak, tapi tak bisa lepas karena mulutnya tersumbat.

“Ha.. ha.. ha.. ini dia.. tante girang yang sudah nggak tahan di atas ranjang,” suara seorang pria terdengar dalam rekaman itu.

Danny mengenal suara itu, ya suara itu tak lain dari Joko, bujangan petugas hotel. Nampaknya ia yang memegang handycam dan mengambil gambar Chika di ranjang.

“Eng.. ing.. eng… ini dia gigolonya…,” kata Joko, di saat yang sama muncul gambar Wendi petugas hotel lainnya.

Wendi hanya menggunakan kolor putih, di baliknya nampa penisnya yang mulai menonjol tegang. Wendi menyeringai di kamera sambil lidahnya menjilati bibir sendiri seakan hendak menyantap makanan lezat.

Wendi naik ke ranjang di mana Chika terikat. Ia berlutut di antara kaki Chika sambil tanganya mulai mengusapi kaki mulus Chika. Chika memberontak meronta-ronta, teriakan tertahan terdengar keras.

“Eit.. eit… percuma tante… lebih baik tante nikmati saja, ketimbang melawan ntar malah sakit lho.. he..he..he..,” ejek Wendi dengan seringai mesumnya.

Wendi terus meraba Chika mulai dari kaki, paha, perut, dan kini tangannya mulai menjalar ke payudara Chika yang masih terbungkus bra. Chika terus meronta berusaha melawan, tetapi percuma karena ikatan di tangan dan kakinya sangat kuat menggunakan tali plastik jemuran, semakin kuat ia meronta justru membuatnya semakin sakit pada pergelangannya.

“Kurang aj”, pikir Danny saat menyaksikan adegan itu di handycam, tubuhnya bergetar menahan amarah.

Rasanya ia ingin sekali menemukan petugas hotel itu dan menghajarnya habis-habisan. Danny melanjutkan menyaksikan adegan di LCD handycam, kini tangan Wendi mencabik paksa bra istrinya itu hinga tanggal. Payudara montok Chika sampai tergoncang-goncang. Pemandangan itu membuat Wendi makin bernafsu dan seketika bibirnya mulai menjelajahi payudara Chika, bergantian, satu dihisap satu diremas-remas.

“Ehmmhhkk… ehmhkkk…jangan!!” Chika terus meronta berusaha melawan, tapi Wendi tak peduli dan terus melakukan aksinya menikmati payudara wanita cantik itu.

“Eihh.. tenang aja tante.. nanti juga wenak..,” kata Wendi sambil tanganya memberi kode ke kamera agar mendekat.

“Waduh.. ini bayi tua lagi netek nih…, cucu mamah gede sih,” suara Joko terdengar dalam rekaman, sementara adegan itu diclose-up, nampak jelas bagaimana lidah Wendi bermain di putting susu Chika, sesekali dihisap dengan keras, lalu dijilati lagi pelan perlahan.

Handycam di tangan Joko juga merekam jelas bagaimana putting susu Chika perlahan-lahan mengeras setelah menerima jilatan dan hisapan Wendi.

Handycam kemudian diarahkan Joko ke bagian bawah, merekam tangan kiri Wendi yang mulai menggerayangi CD Chika. Gambar kkembali diclose-up, pinggul Chika bergerak kencang berusaha menghindari sentuhan Wendi, namun percuma. Jemari-jemari kekar Wendi mulai menyusup ke balik CD dan menggelitik klitoris Chika, sementara di bagian atas yang tak terekam kamera bisa dipastikan Wendi makin bergairah menghisapi susu Chika. Joko menjauh dan mengambil gambar utuh. Wendi bergerak membuka penutup mata Chika, lalu ia mencabik CD Chika dan menjilatinya beberapa kali.

“Ha.. ha.. ha.. sudah kubilang, tante pasti suka. Ini buktinya cairan memeknya sudah mulai netes. Makanya jangan melawan ya,” Wendi menghisap celana dalam Chika di bagian tengah yang ada bercak basahnya, lalu menghempasnya ke arah kamera.

Joko mengclose-up wajah Chika. Mata Chika melotot marah dan mulutnya yang masih tertutup ikatan sapu tangan mengeluarkan suara tertahan seperti membentak protes.

“Waduh.. si tante makin galak makin seksi nih.. ayo embat aja kang.., ntar gantian kita.., ” suara Joko menyemangati Wendi.

“Santai aja Rud.. makin galak makin asyik rasanya. Sekarang kita lihat masih galak nggak kalau itilnya diisapin…. Ayo ke siniin kameranya biar lebih jelas gambarnya,”

Wendi meremas susu Chika dan menjawil dagunya, Chika semakin marah, lalu Salam mengarahkan kepalanya ke selangkangan Chika. Handycam di tangan Joko mendekat ke selangkangan Chika. Jemari Wendi membelai-belai vagina Chika yang sudah telanjang penuh, sementara Chika tetap berusaha melawan dan meronta-ronta. Bibir vagina Chika direngkah dua jemari Wendi hingga terbuka, warnanya merah muda dan mulai basah lantaran klitorisnya dimainkan jemari Wendi.

“Ini itil namanya frend.. makin digosok, tante makin kenikmatan… nggak tahan.. ha ha ha…,”suara Wendi bergairah, sementara gambar di LCD menunjukkan jempolnya menekan dan menguyak klitoris Chika.

Bibir Wendi kemudian mendekat ke vagina Chika, lidahnya mulai menjulur menjilati klitorisnya. Telapak tangannya menekan bagian atas vagina Chika yang ditumbuhi bulu halus tercukur rapi.

“Hmmm.. sedep bener nih tante. Wangi…nggak ada bau terasinya memeknya nih, ga kaya *****-***** di gang itu…he he. Rud kau suting mukanya tante pas aku mainin itilnya ya..,” Wendi kembali menjilati vagina Chika, kali ini sambil dihisap-hisap.

Joko mereka ekspresi Chika. Matanya kini terpejam dan mulutnya yang tersumpal masih berusaha teriak, namun tubuhnya sudah lemah tak mampu meronta lagi. Tenaga Chika sudah terkuras karena berusaha melawan ikatan di tangan dan kaki.

“Ehmmhh.. ehmmmhhpp.,” suara Chika melemas juga, rontanya justru menjadi gemulai membuat Wendi makin nafsu menghisap vaginanya. Jilatan-jilatan lidah Wendi di vagina Chika membuat pikirannya bercabang. Ia mulai merasakan kenikmatan yang tak mungkin dihindari, secara naluriah ia jelas sangat menikmatinya, namun secara moral, bagaimanapun ini perkosaan, apakah pantas ia menikmatinya?

“Ehmm.. kenapa tante? Nikmat ya?,” suara Joko bertanya sambil wajah Chika di close-up. Chika melotot sambil berusaha mengangkat kepalanya, ia berusaha berteriak lagi, memprotes gambarnya direkam Joko.

Danny semakin marah melihat adegan itu. Dalam hatinya ia menaruh dendam kesumat pada Wendi dan Joko yang mengerjai istrinya. Tapi adegan demi adegan yang dilihatnya di layar LCD handycam juga membuatnya semakin penasaran.

Joko tiba-tiba melepaskan sapu tangan penutup bibir Chika. Tapi Chika justru terpejam dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, apalagi teriakan.

“Ayo tante.. mau marah apa? Mau ngomong apa.. ayo teriak lagi?,” suara Joko meledek Chika.

“Ehmm.. jangan… amphuunnn.. jangan disuting… amphunnn,” suara Chika memelas dengan nafas yang mulai berat dan mulai terangsang.

“Ampun kenapa tante..?,” suara Joko kembali menggoda.

“Akhhss.. amphuunnnn… oughhh… mmpphh..,” mata Chika kembali terpejam, tubuhnya bergetar seperti menahan birahi yang memuncak. Dari LCD handycam, Danny bisa menandai ciri-ciri wajah istrinya mulai dilanda gairah seksual.

Di bagian bawah Wendi terus menjilati vagina Chika, Joko mengarahkan kameranya di bawah. Kepala Wendi seakan terbenam di selangkangan Chika, saat di close-up nampak vagina Chika sudah sangat basah dan cairannya terus dijilati dan dihisap Wendi. Pinggulnya bergoyang mengikuti irama jilatan Wendi.

“Oughh.. ampphhhuuunnn… akhhsss..,” suara Chika terdengar.

“Nih suting nih.. nah lihat nih.. tante udah nggak tahan mau dientotin nih..,” kata Wendi sambil jemarinya membuka bibir vagina Chika.

Handycam Joko mengclose-up vagina Chika yang terkuak oleh jemari Wendi. Terlihat jelas dinding vagina Chika berkedut-kedut dan nampak dibaluri lendir birahinya sendiri. Wendi masih menahan vagina Chika dengan jarinya, lalu penis Wendi terekam di kamera sudah tegang mengacung dan mulai mendekati bibir vagina Chika.

“Eh Rud.. kau rekam yang lengkap ya.. aku entotin dulu nih tante, ntar kalau aku cabut kontolku.. kau close-up lagi memeknya ya…biar kau lihat bagaimana kalau nih tante puas.. ha ha..,” Wendi menyeringai.

Wendi mengambil posisi tepat di tengah kaki Chika, dan perlahan menuntut penisnya ke bibir vagina Chika.

“Amphhuunn.. tolong lepaskan saya.. jangan.. tolong jangan lakukan” Chika memelas pasrah, seolah sadar sesaat lagi ia akan disetubuhi pria lain yang bukan suaminya.

“Nah.. begitu dong.. yang halus.. jangan marah marah kayak tadi hah..!! Ayo sekarang mau apa, mau dilepas?. Rud turuti tante ini, lepas ikatan kakinya Rud, cepat…,” Wendi tetap pada posisi siap menindih Chika, ujung penisnya sudah menyentuh bibir vagina Chika yang merekah.

“Akhhss.. jangan pak.. amphun.. jangan..,” Chika memelas sejadi-jadinya dengan suara parau saat merasakan benda hangat menempel di bibir vaginanya.

Joko merekam semuanya sambil melepas ikatan di kaki Chika. Dari posisi itu nampak jelas penis Wendi sudah menempel di bibir vagina Chika.

“Sudah siap tanthee.. ouh.. sudah siap kubawa ke alam nikmathhh.. ahh..,” Wendi menindih tubuh Chika dan memegang kedua pipi Chika agar wajah Chika menghadap ke wajahnya. Pinggulnya mulai ditekan membuat kepala penisnya menembus bibir vagina Chika.

“Ngghhh… amphuunnn.. jangahhnnn…tolong janganhhh… engghhhmmm… ouuhhhhggghhh… akhhhssss,” suara Chika yang memelas berubah menjadi desahan tak tertahan saat Wendi mulai memasukkan penis ke vaginanya dan mulai memompa keluar masuk.

Danny melihat bagaimana tubuh mulus istrinya menggelinjang setiap sentakan pinggul Wendi terjadi. Chika mendesah tak karuan ditindih tubuh Wendi yang kekar. Perawakan Wendi agak pendek, penisnya juga lebih pendek dari milik Danny. Tapi penis hitam Wendi jauh lebih gemuk dan lebih tegar dari milik Danny. Joko mengclose-up bagian yang sedang intim itu. Bibir vagina Chika sampai monyong-monyong didera penis Wendi. Wendi menghentak pinggulnya semakin cepat semakin keras.

“Akhhss… ouhhh.. ahhhh… sssttt…ughhh…,” Chika terpejam sambil mendesah menahan nikmat, ia tak sadar wajahnya yang bersemu kemerahan karena terangsang sedang diclose-up oleh Joko.

Joko kemudian menjauh mengambil gambar lengkap. LCD handycam yang dilihat Danny menampakkan bagaimana kaki mulus Chika kini justru merangkul pinggul Wendi yang semakin cepat memacunya, nafasnya terdengar keras memburu. Desahan Chika juga makin keras, dan kepalanya bergerak ke kanan-kiri.

“Ougghhh… argghhh… huh… nikmat sekalih tubuhmuuhh tannteehhh… ouhhh.. aaahhhhhkkkk…ouhhh nikhhhmmaaathhhh….,” Wendi mencabut penisnya dan berlutut di hadapan Chika dengan kepala menengadah dan tubuh bergetar, sesaat kemudian penisnya menyemburkan sperma sampai ke perut Chika. Wendi mencapai puncaknya.

“Waduh.. akang ini belum apa-apa tuh udah ngecrot kemana-mana maninya.., sini gantian.. biar saya ambil alih memuskan si tante” Joko bergegas naik ranjang menggantikan posisi Wendi.

Rekaman di handycam sempat goyang menampilkan gambar lantai, cermin rias, dan langit-langit kamar. Kini Wendi yang merekam gambar, sementara Joko sudah bugil menindih tubuh Chika. Penis Joko sangat kekar, panjang dan besar. Kotak-kotak kekar di perut Joko menggambarkan keperkasaan, ia memang perenang tangguh di kawasan wisata itu.

“Sudahhh… amphuunnn… jangan lagihh.. amphunnnhhh…,” pinggul Chika bergerak ingin menghindari penis Joko yang sudah mengarah ke vaginanya, tapi percuma karena kedua tangannya masih terikat membuat posisinya tertahan terlentang.

“Tenang tante sayang.. kan masih tanggung tadi.. sekarang saya kasih biar tante puas..,” Joko tiba-tiba menindih Chika, ia melumat bibir ranum Chika, meremas susunya, dan mulai menggenjot penisnya keluar masuk ke vagina wanita cantik beranak dua itu. Chika mulai mendesah, gerakan Joko membuat ia kembali terangsang hebat setelah puncak klimaksnya hampir sampai bersama Wendi tadi.

Danny melihat dari layar LCD bagaimana istrinya mulai hilang kontrol dan tak menyadari sedang berhubungan intim dengan lelaki lain yang memperkosanya. Chika terpejam dengan bibir terus dilumat Joko, malah Chika nampak membalas lumatan-lumatan Joko, nafas mereka sama-sama memburu bercampur desahan.

“Goyang yang keras Rud.. si tante dah mau sampai puncak tuh…,” suara Wendi terdengar

Sementara gambar di close-up ke wajah Chika dan Joko yang berpagutan bibir. Joko menggocok semakin kencang, kaki Chika merangkul pinggul Joko seolah ingin hantaman yang lebih sempurna di vaginanya. Dalam hati Danny bercampur berbagai macam perasaan, marah, cemburu, sedih, juga terangsang sampai tangannya bergetar memegangi handycam itu

“Oughh… ghimmana tanntehhh… enakkhhhss…??,” Joko melepas pagutannya dan terus menggenjot Chika sambil mengeluarkan obrolan nakal

Nampak ludah mereka saling bertaut ketika bibir mereka berpisah. Chika semakin lepas kendali di saat puncak kenikmatan nyaris dirasakannya di bawah himpitan tubuh Joko yang kekar.

“Gimana tanthee… jawabbbhhh aghhh…,”

“Ngghhhmm ahhsss….,” Chika mendesis. Joko menggenjotnya lebih keras, dan terus meluncurkan pertanyaan mengejek pada Chika.

“Akhhss.. amphunnn… ahhhsss enakhhhmaaass.. sssttt..,”

“Apa tanthe??? Yang keras bilang…,”

“Ughhh… ssstnnikkhhmmmaatt… ssshhh aaahhh… ihhh…,”

“Enakh digoyanghhh… ayo bilang…,” Joko terus memancing Chika.

Chika menggelinjang kenikmatan dengan nafas semakin berat memburu. Peluh mereka bercampur menetes. Chika dapat merasakan urat-urat penis Joko yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginanya. Benda panjang itu demikian keras dan perkasa hingga mampu memabukkanya dalam birahi, sebuah sensasi yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya sekalipun.

“Apanya yang nikmat tantehh? Apanya hah? Omong yang jelas!”

“Ssttt.. ahhgg.. konthhh… tholll… assttt oughhh…,” Chika menjawab refleks di luar kendalinya.

“Yahhkk begithuu tannthee… akhhhsss… nihhhh.. ouh…memekmu juga enakhh loh” Joko semakin liar menggenjot Chika.

Kini kaki kanan Chika diangkat ke bahunya lalu dengan posisi itu Chika kembali dihajarnya. Ia terus menyetubuhi wanita itu sambil tangan satunya meremasi payudaranya yang montok.

“Hajar terus Di!” terdengar suara Wendi yang sedang mengambil gambar menyemangati temannya.

“Tanhtee enakhh diapainnn hahh..??,” Joko memacu penisnya semakin cepat, ia mulai merasakan kedutan dari dinding vagina Chika menandakan Chika hampir klimaks.

Wendi mengclose up lagi wajah Chika yang terpejam, sementara Joko menggenjot Chika sambil terus bertanya nakal. Wendi berusaha melepaskan ikatan tangan Chika sambil terus merekam pertempuran ranjang itu.

“Aghh.. dihennntoothhinnhh aaakhhsss… ahhh. Amphunnnn uhhh enthooottt… akhhhsss ouhhh.. sssttt enghhhmmm,”desah Chika.

“Diperkosa ini tanthee.. enakhss diperkosaaa..??,”

“Yeahhh… akhhsss eeehhhnnn…naaakkhhh.. perkohhssaa…aahhhsss…,” Chika menceracau mengukuti pertanyaan Joko.

Tangan Chika yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Joko tapi justru merangkul leher Joko dan meremasi rambut Joko dari belakang. Dari LCD handycam di tangannya, Danny melihat istrinya sudah mencapai klimaksnya, suara Chika terdengar sangat menggairahkan saat itu.

Tanpa sadar penis Danny mulai tegang, sungguh tak disangka, istrinya terlihat begitu menikmati hubungan badan dengan pria pemerkosanya dibanding dengan dirinya. Sungguh sebuah ironi tapi tanpa anehnya Danny malah terangsang menyaksikan rekaman perkosaan istrinya itu

“Ayooo.. tante.. ahhh.. ayohh…,” Joko juga hampir mencapai klimaks, secara maksimal tenaganya dipacu menggoyang Chika.

Tubuh Chika mulai bergetar hebat dan kakinya seperti kejang merangkul pinggul Joko yang terus bergoyang di atas tubuhnya.

“Akkhsss.. ahhhh… ammphuuunnnnhhhh… ssttttt akkhhhsssss…. Mmmmphhhmmmm… emmphhhhpppp,” pertahanan Chika akhirnya bobol, tubuhnya seakan kejang, tangannya menarik rambut Joko, dan kepalanya terangkat meraih wajah pria itu. Saat klimaksnya membludak, Chika justru melumat bibir Joko, memeluk Joko kuat-kuat, melepaskan kedutan-kedutan nikmatnya.

“Akhhh… ouhh.. yeahhh.. yeahhhh… ouhhh… yeaaahhhhh…,” Joko melenguh kejang melepas lumatan Chika. Joko juga mencapai klimaksnya sambil memeluk erat tubuh Chika, mereka berpelukan erat dan saling menekan kenikmatan di vital mereka secara bersamaan, lalu lemas beberapa saat kemudian.

Wendi mengclose-up bagian vital itu, perlahan Joko mencabut penisnya. Air sperma Joko terhujam di dalam vagina Chika perlahan menembus keluar meleles di bibir vagina Chika. Joko berbaring di sisi Chika, sementara Wendi mengangkangkan kaki Chika dan menguak vagina Chika dengan tangan kirinya, tanga kanannya mereka close up vagina Chika. Danny melihat vagina Chika masih berkedut-kedut.

Selanjutnya tampak kamera diatur sedemikian rupa sehingga mengarah ke tengah ranjang, kemudian Wendi nampak di layar menghampiri Chika. Kini kedua pria itu menggarap Chika secara threesome, Joko duduk selonjoran sambil bersandar pada kepala ranjang dengan penisnya dikulum oleh Chika, sementara dari belakangnya Wendi menyetubuhinya daalam posisi doggie. Sesekali tangan Wendi menepuk pantat Chika yang semok itu.

Tiap sodokan penisnya mendorong keluar sperma Joko meleleh di bibir vagina wanita itu. Gambar di handycam kemudian terputus dan menampakkan Chika yang tertidur pulas di ranjang, bugil tanpa ikatan, pada bibirnya masih berbekas cipratan sperma.

“Ya beginilah kondisi nyonya sombong yang sudah kami perkosa sampai puas.. diperkosa malah kenikmatan dia sampe tidur ngorok ha.. ha.. ha..,” suara Wendi terdengar.

“Ini dia film bokep made in Indonesia asli, tidak ada rekayasa dalam pembuatan film ini” suara Joko menimpali.

Joko dan Wendi terus mengeksplore tubuh telanjang Chika sambil berkomentar. Dari komentar mereka Danny tahu kalau mereka nekad memperkosa Chika karena Chika menyinggung perasaan mereka. Waktu hendak membenahi shower dan kamar mandi, Chika sempat melontarkan kata-kata menyuruh mereka berdua cepat selesaikan pekerjaannya karena Chika tak tahan bau badan mereka.

Tangan Danny luruh dan handycam hampir jatuh. Pikirannya kacau setelah melihat rekaman pemerkosaan terhadapa istrinya itu. Bukankah Chika akhirnya menikmati juga?, bagaimana mungkin ini dilaporkan ke polisi?, akan lebih menjadi aib jika nantinya dua pelakunya membeberkan ini suka sama suka. Danny berteriak sejadi-jadinya, lalu kembali ke kamar hotel. Setelah memastikan anak-anak sudah tidur lelap, ia menggauli Chika secara brutal membayangkan memperkosa istrinya sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme