Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Cerita Sex Bercinta Dengan Istri Temanku

Nikmat Bercinta Dengan Istri Teman

Aku sebenarnya tidak tega menagih utang pada kawanku yang satu ini. Namun, karena keadaanku juga sangat mendesak, aku memberanikan diri dengan harapan temanku bisa membayar; minimal separuhnya dulu. Sayang sekali, Darma, kawanku yang baru menikah enam bulan yang lalu ini, tak bisa membayar barang sedikit pun. Memang aku mengerti keadaannya. Ia menikah pun karena desakan orang tua Mika, yang kini jadi istrinya. Darma sendiri, sampai saat ini belum punya pekerjaan.

Karena hari sudah larut, aku tahu diri, segera permisi pada Darma.
“Gua jadi enggak enak nih..”
“Sudahlah Ta. Gua gak apa-apa koq. Gua cuma nyoba aja, barangkali ada,” aku menukasnya, takut membuatnya jadi beban pikiran.
“Ma, gua mau bisikin sesuatu..’ tiba-tiba Darma mendekatkan mulutnya ke arah telingaku. Dan aku benar-benar terkejut, ketika Darma menawarkan istrinya untuk kutiduri.
“Gila lu.. Sialan..” ucapku.
“Sstt.. Jangan berisik. Gua juga kan ingin balas budi sama elu. Soalnya eu udah banyak berbuat baik sama gua. Gak ada salahnya kan, kalau kita saling berbagi kesenangan..” begitulah ucap Darma dengan serius.

Memang diam-diam sudah sejak lama aku selalu memperhatikan Mika. Bahkan aku pun memuji Darma, bisa mendapatkan gadis secantik Mika. Selain posturnya yang tinggi, Mika memiliki kulitnya yang putih dan mulus. Tubuhnya menggairahkan. Memang selalu terbungkus rapat, dengan baju yang longgar. Namun aku dapat membayangkan, betapa kenyalnya tubuh Mika.

Baru melihat wajah dan jemari tangannya pun, aku memang suka langsung berpantasi; membayangkan Mika jika berada di hadapanku tanpa busana. Lalu Mika kugumuli dengan sesuka hati. Namun untuk berbuat macam-macam, rasanya kubuang jauh-jauh. Karena aku sangat tahu, Mika itu orang baik-baik, dan keturunan orang baik-baik pula. Lihat saja penampilannya, yang selalu terbungkus sopan dan rapi.

“Lu serius, Ta? Bagaimana dengan Mika? Apa dia mau?” aku pun akhirnya mulai terbuka.
“Kita pasang strategi, donk! Kalau secara langsung, jelas istri gua kagak bakalan mau,” jawabnya.
“Gimana caranya?” aku penasaran.

Darma kembali membisikan lagi rencana gilanya. Aku memang sangat menginginkan hal itu terjadi. Sudah kubayangkan, betapa nikmatnya bersetubuh dengan perempuan aduhai seperti Mika.

“Mika..! Mika..! Mikaa..!” Darma memanggil istrinya.

Dan tanpa selang waktu lama, Mika ke luar dari dalam kamarnya dengan dandanan yang tetap rapat.

“Ada apa, Bang?” tanya Mika.
“Tolong belikan rokok ke warung..!” kata Darma sambil merogoh uang ribuan ke dalam sakunya.
“Baik, Bang,” Mika menerima uang itu, lalu ke luar.

Darma segera menyuruhku masuk ke dalam kamarnya, seraya masuk ke kolong ranjang. Aku mau saja, berbaring di tembok dingin, di bawah ranjang. Lalu Darma ke luar lagi. Pintu kamar, tampak masih terbuka.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Mika yang datang. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Dan Darma mengatakan kalau aku sudah pulang, karena ada ditelepon sama bos-ku. Mika kedengarannya tidak banyak tanya. Dia tak terlalu mempedulikan kehadiranku. Hingga suara pintu yang dikunci pun, bisa terdengar dengan jelas.

Kulihat dua pasang kaki memasuki kamar. Pintu ditutup. Dikunci pula. Bahkan termasuk lampu pun dimatikan, sehingga mataku tak melihat apa-apa lagi. Yang kudengar hanya suara ranjang yang berderit dan suara kecupan bibir, entah siapa yang mengecup. Lalu ada juga yang terdengar suara seleting celana, dan nafas Mika yang mulai tak beraturan. Pluk, pluk, pluk.. Sepertinya pakaian mereka mulai dilemparkan ke lantai, satu persatu.

“Emh.. Ah.. Uh.. Oh..” Jelas, itu suara milik Mika.
“Euh.. He.. Euh..” nah kalau itu, suara Darma.

Tampaknya mereka sudah mulai bercumbu dengam hebatnya. Ranjang pun sampai bergoyang-goyang begitu dahsyat.

“Emh.. Akh.. Ayo Bang.. Aduuh ss..” suara Mika membuat nafasku bergerak lebih kencang dari biasanya.

Aku bisa merasakan, Mika sedang ada dalam puncak nafsunya. Aku sudah tidak tahan mendengar suara dengusan nafas kedua insan yang tengah memadu berahi ini. Hingga aku mulai membuka celanaku, bajuku dan celana dalamku. Aku sudah telanjang bulat. Lalu aku bergerak perlahan, ke luar dari tempat persembunyian, kolong tempat tidur.

Meski keadaan sangat gelap, namun aku masih bisa melihat dua tubuh yang bergumul. Terutama tubuh Mika, yang putih mulus. Darma sudah memasukan penisnya, dan sedang memompanya turun naik, diiringi desahan nafas yang tersengal-sengal. Konvensional. Mika sepertinya lebih menikmati berada di posisi bawah, sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Darma, dan kakinya menjepit pantat Darma. Aku mulai tidak tahan.

Tiba-tiba Darma semakin mempercepat pompaannya. Ranjang bergoyang lebih ganas lagi. Dan suara erangan tertahan Mika semakin menjadi-jadi.

“Emh, emh, emh, emh.. Ah.. Oh..” Hanya itu yang keluar dari mulut Mika, karena mulutnya disumpal oleh mulut Darma. Dan akhirnya.
“Agh.. Agh..!” suara Darma mengakhiri pendakian itu.

Namun tampaknya Mika belum selesai. Terbukti, kakinya masih menyilang erat, mengunci paha Darma, agar tak segera mencabut penisnya. Tetapi apa hendak dikata, Darma sudah lemas. Ia tergolek dengan nafas yang lemah-lunglai.

Kesempatan inilah, saatnya aku harus masuk. Demikian yang direncanakan Darma tadi. Maka tanpa ragu lagi, aku segera melompat ke atas ranjang. Meraih tubuh Mika dan langsung menindihnya. Tentu saja Mika terpekik kaget.

“Siapa Kau..! Kurang ajar..! Pergi..! Ke luar..! jangan..! setaan..!” Mika berontak. Ia sangat marah tampaknya.
“Mika, aku punya hutang pada kawanku. Berilah ia sedikit kesempatan..” Darma yang menjawab, sambil mengelus rambutnya.
“Biadab..! Aku tidak mau..! Lepaskan..! *******..!” Mika mendorong tubuhku.

Namun karena nafsuku sudah memuncak, aku tak mungkin menyerah. Kutekan lebih keras tubuhnya, sambil tanganku berusaha menuntun agar penisku segera masuk. Mika tetap meronta. Mika berkali-kali meludahi mukaku. Tetapi aku diam-diam menikmatinya. Bahkan ludahnya malah kusedot dari bibirnya, dan kutelan.

Meskipun liang vagina Mika sudah licin, namun penisku tetap agak seret untuk segera menembusnya. Mika terpekik, ketika aku menekan dan memaksakannya sekaligus. Bles..! Akhirnya masuk juga. Kudiamkan beberapa saat, karena aku ingin mencumbu dulu bibirnya. Mika tetap berontak, sampai akhirnya kehabisan tenaga. Akhirnya ia hanya diam.

Kurasakan ada air mata yang mengalir dari kedua kelopak matanya. Tetapi aku semakin bernafsu. Kuremas-remas payudaranya yang ternyata memang cukup besar dan begitu kenyal. Lalu aku mulai memompa penisku. Mika terpekik kembali. Kasihan juga, aku melihatnya. Sehingga aku bergerak perlahan-lahan, sampai akhirnya vagina Mika bisa beradaptasi dengan penisku. Mika tidak bereaksi. Ia diam saja. Namun aku sangat menikmatinya.

Walaupun Mika diam, tentunya jauh lebih nikmat dari pada melakukannya dengan patung. Aku terus memompanya, sampai napasku mulai ngos-ngosan. Kucoba menyalurkan nafasku ke arah telinga Mika. Dan hasilnya cukup bagus. Lama kelamaan, di sela isakan tangisnya, diam-diam kurasakan vaginanya diangkat, seakan Mika ingin menerima hunjaman penisku lebih dalam. Tentu saja aku semakin bersemangat. Kupompa lebih cepat lagi. Tiba-tiba isakan tangisnya berhenti, diganti dengan nafasnya yang kian memburu. Dan yang lebih mengagetkan lagi, kakinya tiba-tiba mengunci pantatku. Aku tersenyum, sambil mencumbui telinganya.

“Kau menikmatinya, sayang?” bisikku.
“Diam..!” dia membentakku. Namun aku yakin, Mika hanya tidak mau mengakui kekalahan dirinya. Buktinya, ketika penisku kucabut, Mika menekan pantatku. Tangannya pun memeluk tubuhku, agar aku merapatkannya kembali.

Lalu ada suara erangan dari bibirnya yang tertahan. Bersamaan erangan itu, kedua kakinya semakin erat menekan pantatku. Dan vaginanya ditekan pula ke atas. Aku pun sangat terangsang. Hingga detik-detik akhir pun akan segera tiba. Kupeluk erat pula tubuh Mika. Kugenjot lebih cepat dan lebih keras. Sampai akhirnya tiba pada genjotan yang terakhir. Aku tekan sangat kuat. Kugigit pelan lehernya.

“Agh.. Agh.. Agh..” Maniku keluar di dalam vaginanya. Begitupun Mika.
“Akh.. Akh.. Akh.. Ss..” begitulah yang keluar dari mulut Mika.

Lalu kemudian Mika mendorong tubuhku dan seakan menyesali dan tak mau lagi bersentuhan denganku.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme