Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Cerita Seks Mengajarkan Seks Kepada Si Kecil Ria

Cerita Seks Mengajarkan Seks Kepada Si Kecil Ria

Ria adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali bersetubuh dengan Ria, aku ingin menikmati rasanya lubang kelamin Ria, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar keperawanan Ria bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film panas yang sedang kami tonton. Suara Ria akhirnya memecahkan keheningan.

“Oom, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Ria sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang. “Iya nih Ria, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai. “Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Ria ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Ria sepertinya ingin menanyakan sesuatu.

“Pertanyaannya apa?” tanyaku. “Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Ria ngga ngerti?” tanya Ria. “Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Ria juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan.

“Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Ria membenarkan jawabanku. “Itulah seninya olahraga beginian Ria, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.” kataku memberi penjelasan ke Ria. “Ria sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Ria lagi. Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.

“Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku. Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan. “Ria harus tahu, jika Ria melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku. “Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Ria lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.”

Ria yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya. “Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Ria juga masih lama pulangnya, kalo Ria memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona kemaluannya Ria, pastilah luar biasa.

“Ayolah!” Ria mengiyakan. Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Ria sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Ria. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Ria merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis beRia berumur 12 tahun.

Ria hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Ria. Kusuruh Ria untuk membuka seluruh pakaiannya.

Awalnya Ria protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Ria telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Ria mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Ria melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Ria tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.

Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, aku sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Ria yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Ria sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Ria yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku.

Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah. Payudara Ria memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati.

Warna puting susu Ria coklat kemerahan, aku melihat puting susu itu menegang tanpa Ria menyadarinya. Lalu Ria melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Ria masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya. “Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.”

Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Ria berbicara. “Oke, sekarang dimulai yaaa…?” Kuberi tanda ke Ria supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Ria untuk menciuminya, Ria mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Ria memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan Riang perawannya dan menyetubuhinya siang ini. Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Ria hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.

Setelah puas aku menciuminya, “Ria, boleh ngga Oom netek ke Ria?” tanyaku meminta. “Tapi Oom, tetek Ria kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Ria sedikit protes. “Ngga apa-apa kok Ria, tetek segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Ria. “Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Ria akhirnya memperbolehkan.

“Dijamin deh ngga sakit, malahan Ria akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi. Segera saja kuciumi puting susu Ria yang kiri, Ria merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Ria mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Ria melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir. “Oom, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Ria keenakan.

Ria terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Ria sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku. “Ria, kocok dong tititnya Oom Agus.” aku meminta Ria untuk mengocok batang kemaluanku.

Ria mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Ria masih amatir, sampai akhirnya aku justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Ria tersebut, maka kuminta Ria untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Ria untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Ria langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat vagina Ria yang merekah.

Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Ria yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Ria yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.

Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Ria dengan lembut, Ria kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Ria menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Ria menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama. “Oom, enak banget sih, Ria senang sekali, terussinnn…” pinta Ria. Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Ria, dan Ria semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Ria hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup. “Oommm… ssshhh… Ria mau pipis nich..” Ria merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin kencing.

“Tahan dikit Ria… tahan yaaa…” sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya. “Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…” Tubuh Ria mengejang, tangan Ria berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya. Ria ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya.

Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Ria. “Oohhh… Oom Agus… Ria merasa lemes dan enak sekali… apa sih yang barusan Ria alami, Oom…?” tanya Ria antara sadar dan tidak. “Itulah puncaknya Ria.., Ria telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku. “Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung. Aku merasakan kalau Ria ingin merasakannya lagi.

Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Ria istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Ria untuk meminumnya. Karena sebentar lagi, aku akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi aku ingin Ria dalam keadaan segar bugar. Tidak berapa lama, Ria kulihat telah kembali fit. “Ria… tadi Ria sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Ria ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku. “Iya Oom, mau dong…” Ria mengiyakan sambil manggut-manggut.

“Ini nanti bukan puncak Ria saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Ria” kataku lagi menjelaskan. “Final?” Ria mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku. “Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Ria, Oom jamin Ria akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan. “Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Ria kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Ria sambil menunjuk lubang nikmatnya.

“Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi. “Iya deh Oom…” Ria secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya. Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Ria yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya.

Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Ria merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Ria mengaduh dan menjerit karena merasa perih. Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat. “Blusss…” Ria menjerit cukup keras, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?” “Udah sayang… tahan ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Ria.

Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Ria ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Ria pun sepertinya sudah merasakan enak. Setelah cairan mani Ria yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah.

Aku menggenjot maju mundur dengan cepat. Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Ria pun sudah sedemikian banyaknya. Sambil kuterus berpacu, puting susu Ria kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Ria aku pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya.

Aku merasakan Ria sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala batang kemaluanku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Ria. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Ria yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Ria yang di atas. Ria seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Ria. Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Ria di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku. Aku menegang hebat. “Crruttt… crruttt…” Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam lubang kemaluan Ria, sedangkan Ria sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Ria.

Ria kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Ria langsung tertidur, aku bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Ria atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba. Keesokan harinya, Ria mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Ria, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme