Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Cerita Seks Kakak Ipar Istriku Yang Haus Seks

Mbak Vivi Kakak Ipar Istriku Yang Haus Seks

Ini adalah kisah nyata yang kualami sendiri. kisah yang menjadi pengalamanku seumur hidup dan menjadi fantasi seksualku hingga saat ini.

berawal dari kunjunganku kerumah kakak iparku bersama istri dan kedua anakku. hari itu akhir pekan yang indah. kami sekeluarga berencana mengunjungi rumah Mbak Vivi (nama dirahasiakan) dibilangan Kebayoran. Mbak Vivi adalah kakak kandung istriku yang sangat aku cintai. Mbak Vivi adalah anak tertua di keluarga istriku, sedangkan istriku adalah anak kedua. sudah setahun yang lalu Mbak Vivi cerai dengan mas Gunawan (nama dirahasiakan), suaminya. akibat permasalahan ekonomi yang tak kunjung selesai. kini, Mbak Vivi harus berjuang merawat dan membesarkan anak semata wayangnya seorang diri. menjadi orang tua tunggal yang kuat. hari ini kami sekeluarga berniat mengadakan acara makan siang bersama dirumah Mbak Vivi. Mita (nama dirahasiakan) istriku, sejak pagi sudah sibuk berbelanja kebutuhan untuk makan siang dirumah Mbak Vivi.

singkat cerita, kami sekeluarga telah sampai dirumah Mbak Vivi. seperti biasa, keramahan Mbak Vivi membuat kami betah berlama-lama dirumahnya. kakak ipar yang kuat, teguh pendirian dan baik hati, itulah Mbak Vivi. acara makan siang bersama telah kami lewatkan. kini kami mengobrol santai diruang tamu. anak-anakku akrab bermain di halaman belakang dengan anak Mbak Vivi. wajahnya yang cantik dan hatinya yang baik membuat Mbak Vivi banyak dipinang pria mapan. namun, Mbak Vivi selalu menolaknya. entah apa alasan beliau, aku tak ikut campur terlalu jauh.

aku Danu (nama dirahasiakan), seorang akuntan disebuah perusahaan di jakarta. sedangkan Mita istriku, adalah seorang dokter disebuah rumah sakit di selatan kota jakarta. kami hidup bahagia. tak pernah ada masalah berat yang menimpa keluarga kami. aku pun sangat beruntung mempunyai istri cantik dan berprofesi dokter. Mbak Vivi adalah seorang karyawan swasta disebuah perusahaan ekspor impor dijakarta.

sedang asik mengobrol diruang tamu. tiba-tiba handphone milik istriku berdering…

“halo…iya…lho? kan saya lagi libur, lagi nggak jaga…terus? iya iya…oooh…iya iya, 15 menit saya sampe!”

penggalan pembicaraan istriku dengan seseorang yang meneleponnya. aku penasaran luar biasa, wajah istriku mendadak panik.

“pah, ada panggilan mendadak dari rumah sakit. anterin aku yuk ke rumah sakit” pinta istriku.
“lho? kan kamu libur. *emangnya dokter jaganya kemana? tanyaku.
“dokter jaganya dapet musibah. ibu mertuanya meninggal. ayo pah!”
“trus anak-anak gimana nih? masih pada betah main”
“yaudah, papah anter aku aja ke rumah sakit. biar anak-anak main dulu disini. kan ada Mbak Vivi”
“iya, nggak apa-apa anak-anak disini. nanti aku yang jaga” sambung Mbak Vivi.

aku pun mengantar istriku. tak sampai setengah jam aku sudah tiba dirumah sakit mengantar istriku.
“habis ini kamu kerumah Mbak Vivi aja ya. jemput anak-anak” kata istriku dengan tergesa-gesa membuka pitu mobil.
“iya, kamu hubungi aku kalau sudah selesai. nanti aku jemput” lanjutku.
“iya. kamu hati-hati bawa mobilnya”

istriku meninggalkanku. aku memacu mobilku menuju rumah Mbak Vivi. sesampainya disana, Mbak Vivi sedang membereskan piring-piring kotor bekas kami makan siang tadi. anak-anakku pun masih asik bermain di halaman belakang dengan anak Mbak Vivi.
“Mita pulang jam berapa nanti?” tanya Mbak Vivi kepadaku.
“aku kurang tau mbak. nanti Mita yang hubungin aku kalau udah selesai” jawabku.
“kamu mau makan lagi Dan?”
“nggak usah mbak. ini aja masih kenyang kok. mau aku bantu mbak?” aku menawarkan diri membantu Mbak Vivi mencuci piring.
“nggak usah. kamu temenin anak-anak aja main”
“nggak apa-apa kok mbak” aku mengambil sebuah piring. mengusapnya dengan spon yang berlumuran sabun. dan mencucinya.

hanya obrolan ringan dengan Mbak Vivi saat mencuci piring. dan tak banyak yang aku tanyakan.

praaaanggg… * *tiba-tiba aku menjatuhkan sebuah piring besar. tanganku tak kuat memegangnya. pecahan piring berhamburan dilantai. aku membereskan pecahan tersebut dibantu oleh Mbak Vivi. tanpa sengaja kaki Mbak Vivi menginjak serpihan piring yang pecah. telapak kakinya berdarah. membuat garis luka di telapak kakinya. ia meringis. segera kuambil kotak obat yang berada di atas kulkas. kubantu Mbak Vivi mengobati lukanya. memberi sedikit obat luka dan menambalnya dengan hansaplast. karena lukanya yang cukup besar dan dalam, Mbak Vivi aku bantu berjalan menuju ruang tengah.
“pelan-pelan mbak. maafin aku ya, gara-gara aku mbak sampai luka gini”
“udahlah Dan, namanya juga musibah”
“mbak yakin mau istirahat diruang tengah?”
“iya, sambil temenin kamu ngobrol. emang kenapa Dan?” tanyanya.
“aku kirain mbak mau istirahat dikamar. aku tau mbak capek trus butuh istirahat”
“emang sih. akhir-akhir ini mbak capek banget Dan. kerjaan dikantor numpuk, belum lagi masalah keuangan”
“mbak harus jaga kondisi tubuh mbak. jangan di porsir mbak. sekarang aja mbak keliatan pucet (pucat)”
“yaudah, bantu mbak jalan ke kamar Dan”

aku memapah Mbak Vivi jalan menuju kamarnya. kamar besar dengan ranjang yang juga besar. terlihat nyaman bila ditiduri. sebuah lemari baju yang cukup besar, serta meja rias dengan cermin ekstra lebar. kamarnya rapi dan wangi. penataan lampu tidur dan lemari-lemari kecil sungguh serasi. ditambah dengan paduan cat berwarna cream. Mbak Vivi kutuntun ke atas ranjangnya. agak kuran sopan sebenarnya. namun aku sangat peduli kepada kakak iparku yang satu ini. kakinya kunaikkan keatas ranjang. dan ia berbaring.
“kamu temenin mbak disini aja Dan!” Mbak Vivi meraih tangank ketika aku hendak keluar kamarnya.
“aku nggak enak mbak kalo nemenin mbak disini. nanti apa kata tetangga kalo liat kita berdua”
“disini semua orang cuek dengan lingkungan mereka. temenin mbak disini ya”
“bener nggak apa-apa mbak?” tanyaku.
“nggak apa-apa. yang penting kita nggak ngapa-ngapain kan”

“mbak, gimana si Ilham (nama dirahasiakan) sekolahnya? lancar?” aku memulai obrolan.
“lancar. kemarin dia dapet juara lomba puisi”
“bagus donk! kalo kerjaan mbak sendiri lancar?”
“aduuuhh, jangan ngomongin kerjaan deh. mbak lagi nggak mood. mbak butuh refreshing”
“ooh, butuh refreshing?”
“iya, mbak pusing banget Dan. butuh banget refreshing”
“minggu depan ikut acara kantorku aja mbak. mau ngadain jalan-jalan ke anyer”
tiba-tiba Mbak Vivi mendekat kearahku. tangannya meraba-raba pahaku. aku menepis tangan Mbak Vivi. tingkahnya aneh. tangannya terus meraba-raba pahaku. aku salah tingkah.
“mbak, jangan kayak gini mbak” kembali kutepis tangannya.
namun Mbak Vivi makin makin liar. tangannya terus meraba-raba. kali ini ia sudah berani meraba pangkal pahaku. aku kembali menepisnya. dengan sedikit kasar. namun Mbak Vivi makin membuatku terhenyak. ia memelukku erat. dan menangis.

Cerita Seks Kakak Ipar Istriku Yang Haus Seks

“mbak nggak sanggup Dan. mbak mau mati aja rasanya” ia menangis meraung-raung sambil memelukku erat.
“sabar mbak sabar. ini cobaan dari Tuhan” aku menenangkan.
“mbak mau mati…”
“mbak, jangan ngomong gitu ah! semua ada hikmahnya mbak”
“tolongin mbak Dan. tolongin mbak”
“iya mbak. aku tolongin. tolong apa mbak?”
Mbak Vivi melepas pelukannya. pipinya basah oleh air mata. semburat kecantikannya terlihat jelas. aku sungguh menyayangi kakak iparku ini. matanya masih mengeluarkan air mata. ia masih menangis. kemudian ia mencium bibirku. aku kaget bukan kepalang. aku melepaskan ciuman Mbak Vivi.
“mbak, jangan begini mbak”
“tolong mbak Dan..”
“iya, tolong apa?” tanyaku bingung.
kemudian Mbak Vivi kembali mencium bibirku. tangannya melingkar dipinggangku. mencengkram kuat pinggangku. ia melumat bibirku buas. aku hanya diam tak membalas ciumannya. aku melepaskan ciuman Mbak Vivi.
“mbak, aku ini adik ipar mbak. jangan kayak gini mbak”
tak ada sepatah kata dari Mbak Vivi. ia hanya diam, kemudian kembali menciumku. tangannya memainkan puting kecilku. aku terangsang. penisku tegang seketika. aku tak tahu harus berbuat apa. aku bingung. Mbak Vivi makin liar. tangan kanannya memainkan putingku, dan tangan kirinya meraba-raba pangkal pahaku. aku terangsang, kali ini benar-benar terangsang. otakku mencerna kemauan Mbak Vivi. IA HANYA INGIN BELAIAN SEORANG PRIA. bathinku berkecamuk, antara nafsu dan statusku sebagai adik iparnya. namun tangan Mbak Vivi benar-benar lihai meraba-raba titik hasrat seksualku. akhirnya, aku pun membalas ciumannya.
tak lama kami berciuman. tangan Mbak Vivi sudah membuka kancing celana jean’s-ku. merogoh isinya. wajahku merah padam. aku direbahkan diranjang besarnya. pintu kamar sudah tertutup rapat dan terkunci. aku tak berani melihat wajah Mbak Vivi yang cantik. kuakui, Mbak Vivi memang cantik. penisku tegang tinggi. batangnya mengeras. Mbak Vivi hanya melontarkan senyum. dengan sigap ia melumat penisku dengan mulutnya. BUAS. LIAR. NAKAL. lidahnya lincah, bibirnya nakal. dan tangannya aktif mencengkram batang penisku. kini aku sudah tak berpakaian alias bugil.
aku masih terlentang dengan penis tegang. Mbak Vivi didepanku, memamerkan tubuh indahnya. ia telah melupakan rasa sakit dikakinya akibat tergores pecahan piring. dengan perlahan membuka kaus yang ia kenakan. melepas bra. dan dua gundukan payudara yang masih kencang dengan puting kecoklatan yang sangat menggairahkan. payudara bulat, dengan ukuran tak besar. membuat hasratku meninggi. kemudian, dengan perlahan ia membuka resleting rok yang ia kenakan. kali ini ia berdiri didepanku. tubuhnya indah semampai. walaupun tak terlalu tinggi, namun kemolekkan tubuhnya sangatlah menggoda. lekukan pinggulnya yang eksotis. kulitnya yang putih bersih bak bintang porno jepang. aku benar-benar berhasrat. bulu halus dan sedikit menghiasi daerah kewaMitaannya.
ia kembali menunduk melumat penisku. aku merasakan nikmat. dua buah testikel-ku pun dilumatnya. tubuhku menggelinjang kenikmatan. lidahnya lihai mengeksplor penisku. hingga penisku benar-benar basah. aku tak tahan dengan godaan payudara Mbak Vivi. aku bangun dan menindih tubuh Mbak Vivi. ia hanya tersenyum nakal. kulumat puting kecilnya. meremas-remas payudara Mbak Vivi. matanya terpejam, desahannya terlontar. lidahku pun tak kalah lihai, memainkan puting Mbak Vivi. ia terlihat sangat berhasrat. lidahku perlahan menuju vagina. dengan jilatan romantis, sedikit demi sedikit menurun. hingga sampai klitorisnya. bulunya tak lebat. kujilat perlahan klitorisnya, ia mendesah. kini sudah kulumat vaginanya. dan desahannya makin sering.
tak sabar ingin kubenamkan penisku kedalam vaginanya. Mbak Vivi membuka pahanya lebar. vaginanya melambai memanggil penisku. senyuman nakal kembali terlontar dari bibirnya. aku tak malu lagi. wajahku tak merah padam lagi. kini nafsu merajai diriku. nafsu menguasaiku. Mbak Vivi terlentang dengan paha terbuka lebar. penisku sudah siap memasuki relung vaginanya. dengan sedikit gesekan-gesekan dimulut vaginanya. *kemudian dengan perlahan namun pasti kumasukkan penisku kedalam vagina Mbak Vivi. matanya terpejam. meringis. bibirnya digigit. tangannya meremas sprei. sedikit demi sedikit penisku sudah melesak masuk kedalam vagina Mbak Vivi. hangat.
dengan irama yang seksama kumainkan penisku. maju mundur. menari didalam vagina Mbak Vivi. awalnya ia merintih, namun kali ini desahan yang sering terlontar dari mulutnya. pinggulku maju mundur. penisku masuk dan keluar. dengan tempo yang cukup santai. aku benar-benar menikmati permainan dengan Mbak Vivi. wajahnya nakal. senyumnya menggoda. dan desahannya membuatku makin berhasrat. tanganku meremas payudaranya. jariku memainkan putingnya. sungguh nikmat vagina Mbak Vivi. kakak iparku ini sangat pintar merawat daerah kewaMitaannya. peluh telah membasahi dahiku. hembusan AC tak terasa.
tempo kupercepat. goyangan pinggulku makin kencang. penisku masuk dan keluar menghujam vagina Mbak Vivi. suara yang timbul akibat hentakan membuat susana makin panas. remasanku makin kuat pada payudaranya. sesekali tak kulewatkan menjilati putingnya. menghisap putingnya. dan menggigit putingnya. Mbak Vivi hanya mendesah merasakan nikmat. peluh juga membasahi dahinya.
“mbak aku mau ke..ke..keluar”
“keluarin didalem aja Dan. nggak apa-apa kok”
dengan beberapa hentakan kuat, panisku menyemburkan air mani didalam vagina Mbak Vivi. satu teriakan tak kuat keluar dari mulutnya. vagina Mbak Vivi banjir oleh air maniku. rasanya sungguh nikmat. rasanya sungguh indah. tak bisa dibayangkan. terus kupompa air maniku, ku tak ingin menyisakan satu tetes pun. kumuntahkan semua air maniku didalam vagina Mbak Vivi. rasanya sungguh luar biasa.

setelahnya, aku mandi bersama dengan Mbak Vivi. kembali bercinta dikamar mandi. aku tak ingat anak-anakku. aku tak memikirkan istriku. aku hanya ingin bercinta dengan Mbak Vivi.

setelah kejadian hari itu, kini Mbak Vivi tak segan mengundangku untuk berkunjung kerumahnya. tentu saja tujuannya hanya satu “BERCINTA”. kami sepakat bahwa hubungan kami hanya sebatas pelepasan hasrat seksual semata, tak lebih. sampai detik ini pun istriku tak mengetahuinya. biar kisah ini kusimpan dalam-dalam. hanya aku dan Mbak Vivi yang mengetahuinya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme