Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Cerita Seks Dua Pembantu Yang Dilanda Nafsu

Kisah Dua Pembantu Yang Haus Seks

Hal paling indah yang aku alami ini, panggil saja Kinan. Cerita Seks ini aku alami pada tahun 2005 yang lalu. Dalam cerita ini mungkin bisa membuat seseorang bisa membuat dirinya selalu ingin menikmati seorang perawan asli. Saya berbagi Cerita Dewasa yang saya anggab ceritanya memang sangat berkualitas buat anak muda dan pembacanya. Ini mulai Cerita Dewasa yang aku alami….!!!!!

hanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Ia berjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Susi sedang membenahi peralatan dapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliran Kinan yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nanti malam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutup dan buka kembali jam 7 malam. Kinan tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harus bekerja merapihkan tempat itu bersama Susi.

Kinan adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia tak dapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dan sangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat. Mata Kinanbersinar lembut, bibirnya kemerahan tanpa lipstik. Kinan mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Kinan membusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Kinan memiliki pantat yang indah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Kinan seorang gadis yang sedang tumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya.

Susi seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal cerai suaminya. Sudah 3 tahun Susi bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main gila dengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Susi bertubuh montok dan bahenol. Semuanya serba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. Bibir Susi sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Susi berwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalau sedang musim tanam atau panen. Susi dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur. Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampai akhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Susi dan banyak juga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Susi terlihat sangat cuek dan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Susi besarnya bukan main, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadi buah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besar dan kenyal itu. Susi juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging seperti meminta……. tubuh Susi sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya.

“Kinan, kamu sudah punya pacar belum?” Tiba Susi berjongkok didepan Kinan dan mulai membantu gadis itu mencuci pirng-piring kotor. Kinan terkikik dan menggeleng.

“Belum tuh”

“Lho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksir” kata Susi sambil memandang Kinan. Kinan tertawa lagi.

“Payah.?? semuanya mikir kesitu melulu” Jawab Kinan.

“Memang.?? laki2 itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngewe” kata Susi tanpa merasa risih berkata kasar.

“Ah mbak, jangan suka ngomong gitu ah” timpal Kinan.

“Kan nggak ada yang dengar ini” Jawab Susi. Mereka terdiam lama.

“Mbak…….” suara Kinan menggantung. Susi terus mencuci.

“Mmmm?” Jawab wanita itu.

“Ngggg………”

“Ngomong aja susah banget sih” Susi mulai hilang sabar. Kinan menunduk.

“Ngg…… anu…….. ngewe itu enak nggak sih?” Akhirnya keluar juga. Susi memandang gadis itu.

“Yaaa…….. enaak banget Kinan, apalagi kalo yang ngewein kita pinter” jawab Susi seenaknya.

“Maksud mbak?” Kinan penasaran.

“Iya pinter………. bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!” kata Susi sambil terkikik. Kinan merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran.

“Bisa macam-macam apa sih, Mbak?” tanya Kinan. Susi memandangnya sambil menimbang. Ah……. toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Kinan sungguh cantik sekali, sekilas mata Susi tertumbuk pada posisi Kinan yang sedang berjongkok. Susi melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadis itu berwarna coklat muda.

“Macam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai mau ngemut tempik kita lohh….” jawab Susi. Entah kenapa Susi merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidih melihat selangkangan Kinan yang bersih serta mulus.

“Idiiiih…… jorok ihhhh….. kok ada yang mau sih?” Kinan sekarang melotot tak percaya.

“Lho…… banyak yang doyan ngemut memek Kinan. Ngemut kontol juga enak banget kok” jawab Susi masih terus melihat selangkangan Kinan.

“Astaga……. masak anunya lelaki diemut?” Kinan merasa aneh dan jantungnya berdebar, ia merasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa ia terangsang.

“Oh enak banget Kinan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm…… ehmm………”

“Kalo apa mbak?” Kinan makin penasaran. Susi merasa melihat bagian memek Kinan yang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Susi tidak yakin.

“Yaaa…….. malu ahhh….!” Susi sengaja membuat Kinan penasaran.

“Ayo doong mbak” rengek Kinan. Susi sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelap di celana dalamnya. Susi sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu.

“Kalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enak banget!” bisik Susi didekat telinga Kinan. Kinan membelalakkan matanya.

“Apa itu pejuh?” tanyanya. Susi merasa tidak tahan.

“Pejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lho” Jawab Susi. Ia melihat bagian memek Kinan makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Susi.

“Idiiihhh amit-amit, jorok banget sih”

“Lho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita, apalagi kalo memek kita harum, tidak bau terasi”

“Idiiihh mbak saru ah!”

“Tapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terus”

“Udah ah, lama2 jadi saru nih” kata Kinan. Susi tertawa.

“Kamu udah banjir yaaa?” goda Susi. Kinan memerah, buru-buru ia merapatkan kedua kakinya.

“Ahhh….. Mbaakk!!!” Susi tersenyum melihat Kinan melotot.

“Nggak usah malu, aku sendiri juga basah nih” Kata Susi. Ia lalu membuka kakinya sehingga Kinan bisa melihat celana dalam putih dengan bercak gelap ditengah, Kinan terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Susi yang mencuat keluar dari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya.

“Ihhh….. mbak jorok nih” desis Kinan. Susi terkekeh.

“Mau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?” bisik Susi. Kinan berdebar.

“Ngaco ah!”

“Aku mau emutin punya kamu, Kinan?” Susi mendekat. Kinan buru-buru bangun dan mundur ketakutan. Susi tertawa.

“Kamu akan bisa pingsan merasakannya” bisik Susi lagi.

“Ogah ah….. udah deh…… jangan nakut-nakutin akhh” Kinan mundur mendekati pintu kamar mandi dan Susi makin maju.

“Nggak apa-apa kok…. cuman diemut aja kok takut?”

“Masak mbak yang ngemut?”

“Iya… supaya kamu tahu rasanya”

“Malu ahhhh…….”

“Nggak apa-apaaa……” Susi mendekat dan Kinan terpojok sampai akhirnya pantatnya menyentuh bibir bak mandi. Dan Susi sudah meraba pahanya. Kinan merinding dan roknya terangkat ke atas, Kinan memejamkan matanya. Susi sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memek Kinan yang tertutup celana dalam. Susi mencium bau memek Kinan, dan Susi puas sekali dengan harumnya memek Kinan. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malah pernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya.

Dua Pembantu Yang Dilanda Nafsu

Tubuh Kinan gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhu tubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Susi mulai menciumi memek Kinan yang masih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Kinan dan Susi terangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam gadis itu ketika ditarik turun. Susi menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itu dan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Kinan sungguh indah sekali, tidak terlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut. Susi mencium dan mulai melumat memek Kinan. Gadis itu mengerang dan menggeliat-liat ketika lidah Susi menjalar membelai liang memeknya. Kinan benar-benar shock dengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaan nikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Susi menyapu dinding memeknya, Kinan menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawah perutnya.

“Aahhh…. Mbak… uuuhhhh….. ssshhhhh…. ja…. jangan mb….. mbbak! Ji…. jijikhh…. aahhhh” Susi tidak memperdulikan rintihan dan erangan Kinan. Lidahnya bergumul dan menembus liang memek Kinan dengan lembut, Susi tahu Kinan masih perawan dan ia tak ingin merusak keperawanan Kinan, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Susi sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahi lidahnya dan Susi mengendus-endus bau khas memek Kinan dengan sangat menikmatinya. Susi perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Kinan, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Kinan, dan Kinan sedikit tersentak tapi kemudian menggelinjang geli, tapi Kinan membiarkan dirinya pasrah terhadap Susi. Ia percaya sepenuhnya pada Susi dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun!

“Enak Kinan?” desah Susi dengan mulut berlumuran lendir Kinan. Kinan memandang ke bawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yang dinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Susi merasakan liang memeknya berdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya dan merasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Kinan, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Kinan dan membuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dibayangkannya. Kinan merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh benda lunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget becampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya.

Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Kinan dan Susi telah saling memeluk dalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Susi mencium mulut Kinan, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Susi diitilnya membuat gadis itu mabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Susi melumat mulut Kinan dengan penuh nafsu, Kinan membalasnya dengan malu-malu tapi mereka berdua memang saling melumat juga akhirnya. Terdengar bunyi mulut mereka ketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Kinan berkelojotan berkali-kali dan Susi merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Kinan menjilati dan mengemuti kemaluannya.

Perlahan-lahan Susi mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Kinan, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Susi mulai menghisap puting tetek Kinan. Perlahan Susi menggeser posisinya sehingga Kinan dapat membelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Susi tidak sabar, diambilnya tangan Kinan dan ditaruhnya di memeknya, Kinan mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Susi, segera saja wanita itu memajukan pinggulnya dan memompa jari Kinan. Kinan mulai mengerti dan ia mulai memainkan itil Susi dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Susi sudah mengangkangi Kinan dan ia menciumi memek Kinan kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Kinan kembali merasakan terjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Susi, Kinan membiarkan wajahnya basah karena cairan memek Susi berjatuhan, menetes dan membentuk lendir panjang, tapi Kinan tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Susi dengan bibir tebal kehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Kinan melihat memek Susi lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyaris menyentuh hidungnya. Kinan mencium bau memek Susi dan dirasakannya sama baunya dengan memeknya.

Kinan menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Susi sehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Kinan gelap mata, ia menjulurkan lidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Kinan bahkan menghisap lendir itu seperti kelaparan. Kinan mengemut itil Susi yang besar dan menonjol. Tubuh Susi kaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yang luar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Kinan. Susi menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidung Kinan terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang2kan pinggulnya maju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Kinan dan gadis itu malah menambahkan kenikmatan Susi dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kali Susi memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah serta hidung Kinan. Susi berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkan desahan kenikmatan.

“Kinaniiiiii!!!!……. aaaaaaarrrrgggghhhhh!!!!…..” Susi merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan dunia hitamnya.

Kinan merasa puas karena berhasil membuat Susi menjerit-jerit minta ampun karena kenikmatan. Kinan merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memek Susi. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memek Susi dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Susi kala menggesekdiwajahnya. Kinan tersenyum lemah karena lelah. Susi ambruk diatas tubuhnya dan Kinan membiarkan, dan gadis itu iseng membuka pantat Susi dan memperhatikan liang anus Susi. Kinan melihat liang dubur Susi seperti bintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Kinan penasaran, ia mencium serta mengendus liang itu…. tidak berbau apa-apa. Susi diam saja membiarkan Kinan berbuat sesukanya. Kinan menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Susi dengan perlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Kinan mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Susi menggelinjang geli.

“Aduh Kinan, enak…. terus Kinan… jilat… jilat terus… ya.. ya… aaakkhhhh…” Susi merasakan lidah Kinan kaku menusuk liang duburnya. Susi bangkit lalu berjongkok diatas wajah Kinan dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Kinan yang kaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Susi menggeram pelan…… Kinan merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang dubur Susi, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja.

Susi tidak ingin Kinan terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Kinan sehingga gadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Susi sehingga liang dubur gadis itu mencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Kinan dengan rakus, lalu setelah licin oleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Kinan menggigit bibir, ia merasa mulas tapi sekaligus nikmat. Kemudian dilihatnya Susi mengeluar masukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Susi menjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Kinan mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan seperti itu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Susi. Ia merasa seolah-olah Susi adalah pembersihnya, Kinan memejamkan mata dan merasakan memeknya berdenyut mengeluarkan cairan.

Susi benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liang dubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Kinan begitu merangsang, begitu lembut dan begitu nikmat. Susi tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar dari lubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Kinan gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Susi tidak kuatir dengan hal itu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Kinan betul-betul puas dan dewasa. Susi kemudian memompa liang memek Kinan dengan lidahnya dan membuat gadis itu meraung-raung serta kejang-kejang.

“Mbaakkkk… sudah mbaakkk…. ampuuunnn…… ooohhhhh!!!” Kinan sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubi melanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Susi dan berusaha membuat wajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamar mandi. Susi memandang Kinan….

“Bagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?” tanya Susi. Kinan membuka matanya dan memandang wanita itu.

“Bisa gila aku mbak…. aahhh benar-benar bisa gila!” Desah Kinan. Susi tersenyum.

“Mau lagi?”

“Jangan! Bisa semaput benaran aku nanti…”

“Ya sudah tak mandikan yuk!” Kata Susi. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Kinan mengetahui apa yang harus dilakukannya jika berahinya datang melanda.

Kejadian pertama itu membuatnya tahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Kinan belajar banyak dari Susi. Dan ia memuja wanita itu.

Malam itu Kinan tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya dengan Susi. Terbayang olehnya perbuatan Susi terhadap dirinya, Kinan merasa seluruh bulu ditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekali mengulangi lagi dengan wanita itu. Kinan bangun dan berjalan kemeja kecil tempat ia biasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara2 aneh, itu kamar Kokom, teman sesama kostnya. Kinan mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papan tipis. Kinan kadang suka kesal dengan Kokom yang bekerja di pabrik karena wanita itu suka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Kinan kaget setengah mati ditengah malam. Tapi suara sekarang lain,bukan suara yang keras, suara yang samar-samar dan sepertinya ada suara lain, Kinan menempelkan telinganya dan ia mendengar suara rintihan Kokom. Kinan berdebar, ini malam minggu….biasanya pacar wanita itu suka datang menginap. Sedang apa mereka?

Kinan berjingkat keluar kamar. Diluar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pasti Kokom sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Kinan tegang, ia berjalan kebalik kamar Kokom yang bersebelahan dengan ruang televisi. Kinan tahu disana dindingnya tidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Kokom. Pelan-pelan Kinan naik keatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia ragu hendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan-pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap kedalam kamar Kokom. Penerangan kamar itu agak redup tapi Kinan bisa melihat dengan jelas Kokom sedang ditindih oleh pacarnya! Kokom mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyang pinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjot Kokom dengan cepat. Kinan merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Kokom dan wajah mereka menempel satu sama lainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Kokom menggumam dan melihat tangan Kokom meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Kinan terangsang sekali, belum pernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasa aneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

Pacar Kokom berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Kinan melihat tangan Kokom masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggaman Kokom dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Kokom. Kokom mengocok kontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengan tubuh bergetar. Kinan merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu, Kinan ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karena sebelumnya Kinan belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjang itu! Kinan melorot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan diri diranjang. Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Kinan merinding membayangkan lubang memek Kokom yang pasti luar biasa besar. Dan Kinan akhirnya terlelap….

Seminggu lewat sudah dan Kinan bingung memikirkan Susi. Wanita itu tidak masuk seminggu sejak pergumulan mereka.Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilik warung mengapa Susi tidak masuk. Selama seminggu ini Kinan tidak bergairan dalam pekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Susi atau mengingat pemandangan adegan Kokom dengan pacarnya. Kinan tidak bersemangat, apalagi sehari-hari teman-temannya selalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-segan membicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Kinan merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usia mereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Kinan mendekat, padahal ia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Kinan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran.

Malam itu Kinan merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Susi. Ia sudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Susi telah berhenti bekerja karena mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Kinan diam-diam menangis memikirkan Susi yang tega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Kinan hanya pasrah dan menjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Susi. Ia menangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Susi dan wanita itu membelai rambutnya dengan sayang, Kinan menyusup dalam ketiak Susi dan menangis sesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangis makin keras……

Tidak terbayangkan oleh Kinan ketika memandang wajah wanita itu didepan pintu restoran. Tubuh Kinan bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air mata mengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Kinan terbuka dengan mata terbuka seolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya…….sudah setahun lewat sejak kepergiannya dan Kinan merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiada malam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanita itu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!

Wanita itu mendekat dan Kinan tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya. Semerbak wangi tercium oleh Kinan, wanita itu membelai rambutnya sambil memeluk erat tubuhnya. Kinan merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Susi. Wanita itu merasakan aliran hangat jatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuh dirambut Kinan.

“Mbak… oh….” Kinan tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalam dipelukan Susi.

“Kinan, sudah lama sekali yaa….” Bisik Susi. Kinan mengangguk-angguk. Kinan merasakan lembutnya buah dada Susi dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya.

“Aku rindu sekali mbak…. ja… jangan pergi lagi…..” Suara tercekat dari Kinan membuat Susi sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannya membuatnya bertahan.

“Aku juga rindu Kinan, sudah, sudah…..” Wanita itu mendorong Kinan pelan dan membawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Susi memang sudah mengamatinya sejak satu jam yang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang dengan penampilan seperti itu, apalagi bermobil.

“Mbak cantik sekali….” Bisik Kinan, ia menatap Susi kagum. Susi memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusan kulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnya yang penuh juga makin terlihat merangsang. Kinan menelan ludah, ia melihat pakaian Susi yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Susi yang juga tidak berubah, montok dan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itu membuat Kinan rindu bukan main.

“Kamu kelihatan makin cantik dan matang Kinan….” Bisik Susi lalu dibelainya pipi Kinan yang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Susi merayap menyentuh bibir Kinan, Kinan membiarkan jari Susi menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jari itu, jantungnya berdegup, Susi membiarkan jarinya dihisap oleh Kinan.

“Aku rindu sekali Kinan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut aku” Kata Susi. Kinan terkejut.

“Kemana?” Tanya Kinan.Susi tertawa.

“Ikut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak denganku” Kata Susi.

Kinan memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakah memang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Susi maka kemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Kinan sungguh bingung.

“Jangan kuatir Kinan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingat sama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut denganku” Kata Susi sambil membelai tangan Kinan. “Lagipula kamu dan aku sudah seperti…. seperti…. kekasih….” Suara Susi berbisik dan bibirnya bergetar. Kinan ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Susi dibawah meja menjamah pahanya dan mengelus serta meremas lembut pahanya, Kinan merinding, ia ingin merintih tapi ia hanya menatap saja wanita itu. Susi memandangnya sendu dan bibirnya terbuka.

“Baiklah mbak…. ka.. kapan kita berangkat?” Bisik Kinan bergetar.

“Besok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disana” Jawab Susi “Jangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disana” Kinan mengangguk. Gadis itu memandang Susi, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Kinan tahu Susi tidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Susi yang dulu.

“Jaga diri kamu baik-baik, Kinan…..sampai besok” Bisik Susi. Kinan merasa pahanya diremas oleh Susi dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Kinan memandang kepergian Susi dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkan jiwanya. Susi menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu.

Kinan memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudah sepi karena sudah agak malam dan teman-teman Kinan juga sudah pulang, beberapa yang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Kinan sengaja memilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnya selama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semua karyawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu ia ingin berhenti. Dan sekarang Kinan hendak berhenti karena besok ia sudah akan di Jakarta.

“Mengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?” Sergah pak Johan dengan wajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Kinan membisu, tubuhnya tegang karena takut.

“Kamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?” Desis laki laki itu. Ia memandang Kinan dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanya tertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Kinan yang ditutupi kaus tipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Johan terkesiap merasakan berahinya tiba-tiba memuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelan ludah, matanya tidak lepas dari dada Kinan dan mulutnya terkunci. Kinan tidak tahu majikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang tak berdaya.

“Baik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambil uangmu!” Suara serak pak Johan terdengar aneh di telinga Kinan, tapi gadis itu merasa lega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu. Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan mess tempat tinggal para karyawan restoran. Kinan tahu ia menuju kantor Pak Johan, atau tepatnya tempat biasa Pak Johan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedang capek. Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalau sedang capek melayani tamu.

Pak Johan menyalakan lampu kamar dan Kinan disuruh duduk di dipan yang biasa ditiduri oleh laki-laki itu. Kinan duduk dan Pak Johan berjalan mendekatinya, tiba-tiba tangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Kinan menjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan.

“Kamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lonte juga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalaman nanti” bisik Pak Johan dekat sekali dengan wajahnya. Kinan mencium bau rokok menyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah.

“Saya akan menjerit pak….. jangan pak…… malu!” bisik Kinan. Pak Johan menerkam Kinan dengan tiba-tiba dan Kinan terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Kinan membuka mulutnya hendak menjerit, tapi tangan pak Johan dengan sigap menutup mulutnya. Kinan terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuat sekali.

“Sekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamu bisa tunggu mereka semua di neraka!” Desis Pak Johan, wajahnya sungguh kejam sekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Johan? Hanya sang isteri yang baik pada karyawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Kinan menangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangi oleh tangan lelaki itu.

“Ikuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang penting kamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?” Ancam Pak Johan, Kinan menggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, ia cepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu.

Pak Johan menarik kaki Kinan sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yang beralaskan tikar. Kemudian Kinan melihat Pak Johan dengan gugup melepaskan pakaiannya. Kinan memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Johan bergoyang-goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Kinan melihat pak Johan sudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Kinan, gadis itu tidak bergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Johan, Kinan menjerit pelan merasakan pipinya panas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Kinan mengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkan juga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Johan. Kinan bisa merasakan napas panas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Johan berusaha menciumnya tapi Kinan memalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Kinan terpaksa membiarkan bibirnya dikulum mulut laki-laki itu, Kinan merasa mual….

“Pegang ini, awas jangan macam-macam kamu!” bentak Pak Johan. Tangan Kinan dituntun untuk menggenggam kontol Pak Johan. Kinan merasa jijik, kontol yang tidak begitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam.

“Kocok!” perintah Pak Johan. Kinan belum pernah melakukannya. Ia meremas-remas pelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Kinan merasa jijik.

“Kocok seperti ini goblok!” desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Kinan berusaha menurutinya dan Kinan sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan. Pak Johan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Ia menyodorkan kontolnya kemulut Kinan, gadis itu menghindar.

“Sialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!” bentak Pak Johan seperti kalap. Kinan menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnya benda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempat berbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Kinan ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Kinan dengan tergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Kinan mendengar Pak Johan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuh dengan cairan lengket dan berbau aneh. Kinan menahannya supaya tidak tertelan, ia mual sekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Susi sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Kinan memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Johan terus bergerak maju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Kinan segera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Johan yang kelelahan dengan perasaan benci bukan main.

“Hhh……. bagus……. memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buat seorang lonte!” Desis pak Johan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajah Kinan. Kinan terkulai tak berdaya dan Pak Johan bergegas hendak keluar tapi sebelumnya sekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Kinan terbelalak kesakitan. Sekejab kemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Kinan menangis pelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman2 yang tinggal diseberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya dan meringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, ia menerima kelebihan dua puluh ribu rupiah! Jumlah yang lumayan untuknya. Kinan dengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan bhnya. Ia melepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dan kausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang.

Kinan berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidak ingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan ia menggosok teteknya kuat-kuat, ia tak perduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendak melenyapkan jejak remasan Pak Johan. Kinan menangis tanpa suara, ia tidak menyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur dan menusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak perduli mulutnya terasa pahit dan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Johan tertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Kinan menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalam kamarnya. Ia telah mencuci bersih bhnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkan pakaian itu disini saja. Lalu Kinan berbaring berusaha untuk tidur……diam-diam ia bersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidak menyetubuhinya, Kinan menghela napas dalam lelap.

“Ini kamar kamu Kinan, suka?” bisik Susi sambil memandang gadis itu. Kinan ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalam perjalanannya dengan Susi seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnya besar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias dan Kinan heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapa ada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uang sekali, pikirnya. Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya dengan fasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambil menimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya.

“Ada air panasnya lho Kinan…” kata Susi. Kinan memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Susi dan berterima kasih padanya dengan air mata mengalir. “Kamu berhak mendapatkannya sayang…” bisik wanita itu.

“Indah sekali mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?” kata Kinan dengan suara serak. Susi tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkan barang-barang Kinan.

Kinan sangat kagum dengan rumah Susi. Besar, bersih, mewah dan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indah bukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurut gadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besar lengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buang kain saja. Kemudian Kinan melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TV yang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Kinan tidak dapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai.

“Kamu istirahat saja dulu Kinan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagi” kata Susi. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Kinan. Gadis itu duduk di atas ranjang, wah empuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekali ia disayangi seperti itu oleh Susi. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudah terlelap……

Kinan terbangun oleh belaian Susi. Jari-jemari Susi membelai pipinya, Kinan memegang tangan Susi kemudian menciumnya dengan lembut.

“Terima kasih mbak” bisiknya. Susi tersenyum.

“Ah tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya aku nggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangan tanpa kamu Kinan” kata Susi. Kinan mengecup lagi telapan tangan yang membelainya.

“Kok mbak kimpoi nggak bilang-bilang sih?” tanya Kinan. Susi tertawa. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Susi rindu sekali dengan hembusan napas Kinan dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah serta mulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Kinan, selama ini ia selalu melayani ‘suami’nya dengan baik. Dan sang ‘suami’ juga kelihatan sangat sayang padanya, maka itu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Susi menceritakan semuanya kepada ‘suaminya’ dan tak disangka ‘suaminya’ sangat menyetujui….

“Jadi kamu suka bermain dengan cewek juga?” tanya ‘suaminya’, yang sebetulnya adalah laki-laki yang bernama Rahmad dan selama ini memelihara hidup Susi dan diam-diam mereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Susi mengangguk, ia pasrah jika Rahmad meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ia lihat hanya pandangan terpesona saja.

“Ya mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya mas” Jawab Susi.

“Jadi selama ini kamu tidak cinta padaku?” Tanya Rahmad menyelidik.

“Aku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan…..”

“Dan apa?”

“Dan membayangkan gadis itu” Susi menjawab terus terang.

“Boleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau……” Rahmad tidak meneruskan kata-katanya. Susi tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahmad.

“Aku akan mencobanya sayy…. aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmati keperawanan gadis itu” bisik Susi.

Rahmad lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Susi yang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Susinya yang begitu hebat diatas ranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita itu selalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan.

“Mbak…… kok melamun?” bisikan Kinan menyadarkan lamunan Susi. Wajahnya dekat sekali dengan Kinan dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Susi tertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Kinan dan melumatnya. Kinan terengah-engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Susi mengelus-elus buah dadanya dan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Susi dengan gemas dan membuat wanita itu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugil ria dalam pergumulan panas. Kinan tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uang logam. Dan semua kejadian dikamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahmad! Dan sekarang Rahmad sedang menahan napas memandang kearah layar besar didalam ruang kerjanya. Tubuhnya tegang dan dirasakan daging dicelananya membengkak. Ia bisa melihat Susi melucuti pakaian Kinan dan ia bisa melihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Kinan dengan penuh nafsu.

Rahmad tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Kinan memangut tetek Susi dan menyedotnya seperti bayi, dan Susi dengan kalap menyuruk keselangkangan Kinan dan mulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahmad tak kuasa menahannya, ia juga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalam mulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Kinan, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Kinan sedang ditindih oleh bagian bawah tubuh Susi dan Susi asyik menjilat-jilat memek Kinan, Rahmad dapat melihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karena lendir. Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Kinan yang tergeletak diujung ranjang. Rahmad membawa benda itu kewajahnya dan menciumnya, oohh…. nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khas memek seperti punya Susi, Rahmad menjilat bercak kuning dicelana dalam itu dan merasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubah menjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkak mundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahmad berdebar-debar membayangkan kapan Susi dan Kinan akan siap melayaninya bersama-sama.

“Aduh mbaakk, aku keluar lagi mbak…. aduh duh…..” Kinan berkelojotan, memeknya terangkat dan menekan-nekan wajah Susi, Susi tidak mau kalah dan mengulek memeknya dengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing.

“Shaan…. mati aku Kinan… ooohh…. terus Kinan, terus!” desah Susi dan Kinan mempercepat tusukan lidahnya dalam memek Susi, ia menghujamkan mulutnya dan lidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Kinan merasakan cairan masuk kedalam mulutnya dengan mudah, Kinan tidak perduli bahwa itu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Susi karena gadis itu membuatnya seperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Kinan menjalarkan lidahnya didalam memeknya.

Susi merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadar meliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga oleh jari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Susi juga tidak mau kalah dan ia membuat Kinan berguling sehingga gadis itu sekarang yang berada diatasnya dan dengan leluasa Susi menjilati cairan bening yang jatuh dari liang memek Kinan, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Susi. Enak bukan main rasanya dan Susi seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Kinan dan membuat gadis itu mengerang, kadang malah Kinan tersentak kesakitan karena lidah Susi masuk terlalu dalam dan Susi cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masih perawan dan ia ingin Rahmad yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam.

“Mbakhh…. aah… enak sekali mbak…. aaaaa…. keluar lagi mbak…… aduuuuhhh” Kinan mengerang panjang dan Susi merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalam mulutnya. Susi menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Kinan, ia merasa terangsang sekali melihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Kinan, Susi memasukkan jari telunjuknya, membuat Kinan mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anus Kinan. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Kinan merasa mulas tapi ada perasaan nikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Susi lebih mudah masuk kedalam anusnya, Kinan merasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Susi dengan lahap menjilati lubang anus Kinan dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalam anus Kinan, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu.

Kinan melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Susi yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Kinan di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Kinan dengan tanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Susi merasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihan panjang Susi mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Kinan juga lemas diatas tubuh Susi. Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Kinan diam-diam memohon agar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Susi lagi, ia tak akan kuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Kinan menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Susi, ia sangat merindukan kejadian seperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Kinan sangat suka sekali bau ketiak Susi yang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Kinan menjilati keringat yang membasahi bulu-bulu ketiak wanita itu. Kinan mengendus dalam dan menikmati bau khas yang sangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Susi sungguh merangsang.

Susi cekikikan kegelian karena jilatan lidah Kinan tapi ia merasa nafsunya bangkit kembali. Susi memandang lidah Kinan membelai ketiaknya dan menjilati keringatnya dengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap bulu ketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Susi menarik wajah Kinan dan melumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Kinan dan Susi melumat habis mulut Kinan, gadis itu pasrah membiarkan lidah Susi menjalar dan menyelusup kemana suka. Ia merasa jari-jari Susi mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licin sekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Kinan merasa nyaman sekali. Susi membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulut Kinan dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yang biasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalam rengkuhan kenikmatan.

Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Kinan. Susi mengangumi tubuh Kinan yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan puting merah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padat dan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal ia sudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Kinan sangat iri melihat tetek Susi yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya juga besar dan kehitaman tapi Kinan tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila-gila ingin menikmati tubuh Susi.

“Mbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?” Kata Kinan, Susi tertawa terkekeh-kekeh.

“Ini dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosok dengan minyak bulus jadi gede kayak gini” Jawab Susi. Ia tak memberitahu Kinan bahwa dulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu.

“Memang bisa?”

“Entahlah, tapi kupikir gara-gara itu sih” mereka terkikik.

“Selesai mandi nanti kita kekamarku yuk” ajak Susi.

“Ah nanti ada suami mbak” jawab Kinan.

“Ah mungkin dia pulang malam hari ini” jawab Susi. Ia tak mau Kinan mengetahui rencananya.

“Wah kamar mbak hebat sekali!” seru Kinan kagum melihat kemewahan kamar Susi. Susi tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar.

“Heh kamu mau nonton film?” tanya Susi. Kinan menggeleng.

“Film?”

“Iya film yang hebat deh” kata Susi lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikaki ranjang. Susi memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Kinan. Ia memeluk Kinan dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Kinan melotot ketika melihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapa lelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol pria lainnya. Kinan menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang dan hangat. Susi merasa gadis itu gemetar.

“Lho…. kok.. kok…. ih mbak! Idiihh besar sekali mbak!” desis Kinan. Susi diam.

“Jijik mbak…. aduh jijik sekali!” seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itu menyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahap menjilatnya sambil merengek-rengek manja. Kinan teringat malam jahanamnya dengan Pak Johan, ternyata ada wanita yang suka sekali dengan itu.

“Oh enak sekali Kinan, wah rasanya luar biasa!” kata Susi. Ia membelai tengkuk Kinan. Kinan bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontol yang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairan kental kedalam mulutnya lagi.

“Aduuhh… geli amat. Kok mau sih…” Suara Kinan bergetar, diam-diam ia merasa ada perasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Susi membelai-belai tengkuknya.

“Mbak! Gila ihhh!” Kinan melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itu dan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuk sebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi.

“Wah itu yang paling enak Kinan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamu dimasuki kontol Kinan… enaknya luar biasa!” Desis Susi. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Di televisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka saling menjilat dan menyuapi satu sama lain. Kinan mendesah, ia merasa meriang sekali dan memeknya banjir besar, Kinan merasa terangsang bukan main melihat bagaimana kedua wanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompa mulut wanita-wanita itu.

“Mbaakk….. aduh mbak….. nggak tahan aku” Bisik Kinan manja sambil menatap Susi. Susi melumat bibir gadis itu.

“Nafsu yaaa….?” Bisiknya. Kinan mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Susi lagi.

Tiba-tiba pintu terbuka dan….. “Wah ada tamu nih?” Suara besar dan berat menyengat Kinan. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Susi tersenyum manis pada laki-laki itu.

“Oh mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Kinan” Kata Susi sambil mendorong Kinan mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampang seram dengan brewok diwajahnya.

“Ini suamiku Kinan, kamu panggil saja Oom Rahmad” Kata Susi.

“Oh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik begini” Kata Rahmad sambil menjabat tangan Kinan. Kinan tersipu menundukkan wajahnya. Rahmad duduk diatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi.

“Lho kok putar film begitu?” Tanyanya berpura-pura. Susi tersenyum, Kinan tidak berani memandang, ia malu bukan main.

“Ya iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Kinan bagaimana punya laki-laki itu lho!” Kata Susi manja sambil membantu melepaskan dasi Rahmad.

“Mbaakk….” Kinan melotot.

“Lho? Nggak apa-apa kok Kinan. Mas Rahmad orangnya sangat terbuka kok. Lagian kami sudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film itu” kata Susi sambil menarik Kinan supaya mendekat. Kemudian ia memeluk Kinan dan mencium mulutnya. Kinan merasa malu dengan perlakuan Susi tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Susi marah. Malah sekarang Susi meremas buah dadanya dengan perlahan.

“Mbaaakk… malu ah” rengek Kinan.

“Ah tidak apa-apa kok Kinan, oom sudah biasa kok” kata Rahmad sambil menelan ludah. Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Kinan lumer dimulutnya. Lalu Susi membuka celana Rahmad dan sekaligus memelorotkan celana dalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Kinan menutup mulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Susi tersinggung.

“Nih lihat ini Kinan. Ini yang namanya kontol enak? bisik Susi sambil mengocok pelan kontol Rahmad dan Kinan bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu seperti lendir memeknya. Lalu ia terbelalak melihat Susi dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Kinan bingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Susi. Dan Rahmad mendengus-dengus sambil memompanya dalam mulut wanita itu. Kinan gemetar menyaksikan pemandangan yang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begitu enaknya sampai Susi mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?

“Mau cobain Kinan? Enak banget….” Susi menarik gadis itu supaya berlutut juga. Rahmad berdiri dan tersenyum pada Kinan. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agak keras itu. Susi mengambil tangan Kinan dan dipaksanya tangan itu menjamah kontol suaminya. Kinan berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dan gundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapi ia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Susi, tapi sekarang malah Susi memaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu.

“Nggak apa-apa Kinan, suamiku milik kamu juga kok….” bisik Susi. Kemudian Kinan merasakan daging itu ditangannya, lumayan besar dan kenyal, ada lendir bening keluar dari ujung kontol Rahmad, dan Susi mengusap lendir itu dan memasukkannya ke mulut Kinan, Kinan merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asin seperti pejuh Pak Johan. Lalu Susi mendekatkan mulut Kinan sambil menekan kepalanya supaya mendekati kontol Rahmad. Dan entah bagaimana Kinan pasrah saja ketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Kinan merasa daging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, seperti mengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnya merasa.

 

Updated: Agustus 22, 2017 — 10:55 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme