Cerita Dewasa Indonesia

Kumpulan Cerita Dewasa dan Cerita Seks Indonesia

Cerita Seks Berselingkuh Dengan Mbak Karin Istri Sepupuku

Cerita Seks Berselingkuh Dengan Mbak Karin Istri Sepupuku

Pesta pernikahan kakak sepupuku, Mas Surya, dapat dikatakan sangat meriah dan sangat mewah. Dia memang sangat beruntung, perawakannya yang over size dengan perut yang mirip gentong itu tidak menghalanginya untuk menikahi Mbak Karin, seorang wanita yang sangat cantik dengan body yang sangat aduhai.

Aku pun heran, kenapa wanita secantik Mbak Karin yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi 170 cm itu mau menikahi Mas Surya. Apa mungkin karena kekayaan Mas Surya? Tapi masa bodohlah, yang pasti mataku selalu tidak bisa lepas dari Mbak Karin, dan otakku pun sibuk memikirkan sesuatu yang sangat nakal.

Seperti biasa, setiap 2 bulan sekali diadakan petemuan keluarga. Karena keluarga kami merupakan keluarga yang sangat besar. Setiap pertemuan keluarga, aku selalu berusaha untuk mencuri pandang, kecantikan dan kemolekan tubuh Mbak Karin yang sempurna itu memang membuatku jatuh cinta dan sangat bernafsu.

Ingin rasanya memeluk, mencium dan bercinta dengannya. Tapi sayang pertemuan keluarga yang hanya sehari semalam itu sangatlah sebentar bagiku. Aku selalu tidak pernah puas untuk mengkhayalkan Mbak Karin.

Setelah 14 kali pertemuan keluarga, sekitar 2 tahun setelah pernikahan Mas Surya dan Mbak Karin, akupun kuliah di Jakarta. Karena rumahku di Bandung, aku terpaksa harus mencari tempat kost. Tapi Mas Surya melarangku dan menyuruhku tinggal di rumah besarnya.

Aku disuruh menjaga rumah selama kepergian Mas Surya ke negeri Belanda selama kirakira 2 Bulan. Sekalian menemani Mbak Karin, demikian kata Mas Surya.

Aku jelas bersedia, selain ngirit uang kost juga bisa selalu melihat keindahan Mbak Karin.

Satu minggu telah belalu semenjak kepegian Mas Surya. Aku pun sibuk di kampus dengan berbagai jenis kegiatannya. Aku berusaha menyibukkan diriku agar pikiran kotor mengenai Mbak Karin dapat aku tepis. Aku tidak mau menghianati Mas Surya, kakak sepupuku.

Jam 7 malam tepat aku sampai dirumah Mas Surya, yang kini hanya didiami oleh satu orang pembantu rumah tangga, satu orang satpam, aku dan Mbak Karin. Aku lihat Mbak Karin belum pulang. Aku pun bebersih diri dan kemudian bersantai di kursi sofa sambil mendengarkan music klasik dari Beethoven. Dolby Digital Suround Sound System Super DTC yang ada di ruangan tengah itu membuai diriku dan akupun terlelap. Entah berapa lama aku tertidur di kursi sofa sampai kemudian aku terbangun dengan dering telephone dari mesin faximile yang ada di kantor pribadi Mas Surya.

Aku terkejut, terbangun dan bermaksud menuju ke arah suara telephone tersebut. Belum sempat aku beranjak dari kursi sofa, aku melihat suatu pemandangan yang sangat mengejutkan. Pintu kamar Mbak Karin terbuka, dan keluarlah Mbak Karin dengan rambut yang basah dan hanya di bungkus handuk berlari menuju kearah ruang kerja Mas Surya. Dari ruang santai tersebut aku bisa melihat jelas kearah ruang kerja Mas Surya. Aku lihat Mbak Karin sedang berbicara dengan seseorang di telephone tersebut.

Handuk itu membungkus tubuh Mbak Karin mulai dada sampai sampai perbatasan antara pantat dan pahanya. Hatiku berdebar sangat keras melihat itu semua. Terlihat betapa sintalnya tubuh Mbak Karin. Walaupun terbungkus handuk, bentuk pinggul dan pantatnya dapat terlihat jelas. Jantungku tambah tidak karuan ketika Mbak Karin mengambil sebuah buku dari lemari atas yang membuat handuk tersebut semakin terangkat.

Oh, My God! Ternyata Mbak Karin tidak memakai CD, terlihat belahan pantatnya yang sangat bulat, padat, putih dan mulus tak bercacat. Mbak Karin membalikan tubuhnya, aku terkejut dan tetap purapura tertidur. Mbak Karin kemudian duduk diatas meja kerja Mas Surya dan membaca buku yang baru saja diambilnya. Hal ini membuatku semakin gila. Kali ini Mbak Karin menyilangkan kakinya yang ramping itu agak tinggi sehingga handuknya makin naik ke atas. Benarbenar merupakan pemandangan yang sangat indah, pahanya yang putih mulus serta padat berisi itu membuat jantungku serasa mau copot.

Pletak..! Tak sengaja kakiku menyenggol vas bunga di atas meja didepan kursi sofa tempat aku berbaring. Aku kaget setengah mati takut ketahuan Mbak Karin. Untung aku tidak kehabisan akal, aku bangun dan membenarkan posisi vas bunga tadi dengn terus berpurapura tidak menyadari keberadaan Mbak Karin.

Apaan tuh? Tanyanya yang kemudian aku jawab dengan singkat.

Eh.., ini Mbak vas bunganya jatuh. Jawabku.

Angga, kesini deh sebentar..! Aku kaget setengah mati, Mbak Karin memanggilku.

Aku berjalan dengan purapura sempoyongan karena masih mengantuk. Aku berjalan menuju ruang kerja Mas Surya. Kulihat dari dekat Mbak Karin dengan posisi yang masih sama memandangiku. Perpaduan antara betis indah dengan paha yang putih, mulus padat berisi itu semakin jelas.

Duduk sini! Perintahnya sambil menunjukan kursi yang berada tepat didepan meja yang diduduki Mbak Karin.

Aku menurut tanpa sepatah katapun. Setelah aku duduk di depannya, Mbak Karin mengangkat kaki kanannya dan meletakkan telapak kakinya tepat diantara pahaku. Aku hanya terdiam dengan jantung yang semakin kencang. Entah apa maksud Mbak Karin.

Nih, lihat.., tadi pagi aku kesandung, dan jari kelingkingku sedikit memar. katanya sambil tak hentinya kutatap kakinya yang indah dan bersih itu. Jarijarinya mungil dan putih sangatlah indah bila di pandang dan di pegang.

Mau nggak pijitin kaki Mbak? Aku pun langsung meraih betis yang indah itu.

Mbak Karin mengangkat kaki kanannya dari pangkuan kaki kirinya. Aku tak menyadari gerakan itu karena pikiran dan mataku saat itu terfokus kepada sesuatu diantara kedua belah paha Mbak Karin. Aku terkejut, telapak kaki kiri Mbak Karin tibatiba membelai dan memutari daerah kemaluanku yang masih tegang dan terbungkus celana jeansku. Aku memandangi Mbak Karin dan..,

Jangan kegat, Mbak tau koq, dari dulu kamu selalu merhatiin Mbak terus khan? Katanya.

Aku heran dari mana Mbak Karin tahu kalau aku emmang selalu mengagumi keindahannya.

Mbak Karin juga selalu merhatiin kamu, cuma kamu aja yang nggak pernah sadar. Katanya lagi.

Kamu sayang Mbak Karin nggak? Tanyanya.

Ssayang mm.. mb.. mbak! Jawabku terbatabata.

Mbak Karin juga sayang kamu

Bener deh!

Kalo kamu sayang Mbak Karin, kamu tolongin Mbak Karin mau khan? Tanyanya.

Mau Mbak, tolong apaan? Tanyaku lagi.

Cium betis Mbak Karin donk sayang!

Baru kali ini Mbak Karin memanggilku sayang, bisanya Mbak Karin hanya memanggil namaku. Tanpa satu pertanyaan pun aku ciumi betisnya yang putih dan indah itu. Aku tidak hanya menciumi betis itu, sesekali aku menjilati betis itu. Makin lama makin ke atas sampai ke pahanya. Mbak Karin menggelinjang hebat, desahannya membuatku semakin buas.

Ah.., sayang.. terus sayang.. enak..! Aku menjadi semakin nekat, makin lama aku makin keatas terus dan kemudian bibirku tak hentinya menciumi paha Mbak Karin. Semakin lama semakin keatas.

Cium aku sayang! Tibatiba Mbak Karin menghentikan gerakanku.

Dengan kedua tanggannya Mbak Karin menarik kepalaku dan membimbingku untuk mencium kedua bibirnya yang sangat tipis dan berwarna merah muda. Kita berdua akhirnya saling berciuman. Sesekali lidahku masuk kemulutnya dan begitu pula sebaliknya. Lidah kita saling bermain di dalam mulut. Aku dapat merasakan, kedua tangan Mbak Karin berusaha membuka ikat pinggang kulitku. Aku terdiam saja, sampai akhirnta Mbak Karin menyelipkan tanggannya ke balik celanaku. Mbak Karin meraih batang kemaluanku, aku terus menciuminya sambil mencari ikatan yang mengikat handuk Mbak Karin.

Mbak aku lepas ya handuknya? Kataku.

Mbak Karin hanya menganggukan kepalanya sambil terus memandangiku. Tak lama kemudian aku lihat Mbak Karin sudah telanjang bulat didepanku, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya yang langsing, putih, mulus dan padat tersebut. Terlihat jelas olehku kedua bukit kembarnya. Besarnya tidak seberapa, tetapi memiliki bentuk yang sangat indah. Kencang, Padat, keras dengan puting yang sedikit mencuat keatas. Aku tak sabar, mulutku langsung mendarat tepat di puting susunya. Saat itu aku lakukan segala sesuatu yang bisa mulutku lakukan. Menjilati, menciumi dan menghisap. Kulakukan itu secara bergantian antara yang kiri dan kanan. Aku benarbenar asyik dengan kesibukanku saat itu.

Ah, sayang.. terus sayang.. oh. Aku menjelajahi seluruh tubuh bagian atasnya.

Dari kedua bukit kembarnya, aku ber alih ke ketiaknya. Aku angkat ke dua tangannya. Ketiaknya yang tanpa bulu dan beraroma wangi itu aku jilati dengan ujung lidahku. Mbak Karin menjepit kepalaku.

Ah, jangan disitu dong, aku nggak kuat, geli! akupun beralih ke perutnya.

Busyet..! Pikirku, tak sedikitpun lemak yang aku temukan di perutnya.

Sambil menciumi dan menjilati perutnya aku penasaran apakah ada sedikit saja lemak yang bertengger di perutnya. Aku memutar ke pinggangnya.

Ah..sayang, ternyata kamu nakal..! Mbak Karin mulai meracau.

Aku terus memutari bagian perutnya yang ternyata tak ada lemak sama sekali.

Hebat.., a perfect woman. pikirku.

Tak ada, ya.. betul.. sama sekali.., tak ada cacatnya sama sekali tubuh wanita ini. pikirku.

Putih, mulus, padat, bersih, tak berlemak dan kencang. aku terus menikmati menjilati tubuhnya.

Buka celana kamu sayang..! Mbak Karin menyuruhku, aku pun melorotkan celanaku sekaligus dengan CD ku, sehingga akupun telanjang bulat.

Batang kemaluanku sudah benarbenar mencuat keatas.

Wow, Punya kamu udah bangun rupanya.

Tunggu sebentar ya.

Mbak Karin naik keatas meja, seluruh tubuhnya benarbenar di atas meja. Mbak Karin mengatur posisinya, dan akhirnya Mbak Karin nungging diatas meja dengan wajah tepat di depan kemaluanku. Tangannya kirinya meraih dan menarik batang kemaluanku. Aku menurut saja bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya. Mbak Karin mulai menciumi kepala kemaluanku.

OH..,! Sekarang giliranku yang merasakan nikmatnya permainan yang Mbak Karin lakukan.

Mulamula hanya kepala kemaluanku yang merasakan hisapan, jilatan, dan sedikit sentuhan giginya yang putih bersih. Lama kelamaan Mbak Karin membenamkan batang kemaluanku sedikit demi sedikit kedalam mulutnya.

Ah.., Uh..! Aku mendesah pelan dengan sedikit menyeringai untuk menahan gejolak yang sedang berkecamuk di dalam tubuhku.

Aku nggak mau hal ini cepat selesai. Mbak Karin terus mempermainkan batang kemaluanku. Kadang sesekali Mbak Karin mengulum kedua bijiku. Hal ini membuat kusedikit mules, tapi kenikmatan yang aku raih jauh dari itu semua.

Aku tak mau diam, aku julurkan tangan kananku untuk meraih perbatasan punggung dan belahan pantatnya. Untuk mengimbangi permainannya, pantat Mbak Karin yang terlihat nungging, ku remas dengan tangan kanan, sementara tangan kiri masih merabaraba punggung Mbak Karin, aku raba dan aku belai punggung yang putih mulus itu. Tanganku bergerak turun menelusuri celah pantatnya, dan sekarang menuju liang kemaluannya.

Kemaluan itu kemudian aku sentuh dari belakang, dan terasa sudah sangat basah dan merekah. Aku belaibelai bibir luar kewanitaannya dan akhirnya ku belaibelai clitorisnya. Merasa clitorisnya tersentuh oleh jari saya, pantat Mbak Karin semakin dinaikkan, dan terasa tegang, kuluman ke batang kejantanan ku semakin kencang dan buas. Melihat perpaduan antara belaian klitoris, punggung yang putih mulus dan kuluman rudal, suara kami jadi semakin maracau.

Kocokan mulutnya terhadap Batangku semakin lama semakin dalam dan cepat. Kadang kepalanya naik dan turun, tetapi kadang kepalanya juga sedikit berputar. Sedikit perubahan gerak dari kepalanya, terasa sangat nikmat aku rasakan. Aku mulai kehilangan kendali, ada sesuatu yang bergejolak di atas pangkal batang kemaluanku. Entah mengapa, tangan kanannya menyentuh perutku dan mendorongku. Dorongannya sedikit kuat sehingga aku terduduk di kursi lagi.

Plop..! Terdengar suara yang lucu akibat terlepasnya batang kemaluanku dari mulut mungilnya.

Sekarang giliran kamu sayang. Seakan Mbak Karin tahu, bahwa aku sudah mulai kehilangan kendali. Mbak Karin menghentikan permainannya dan mengatur posisinya lagi.

Aku dapat melihat dengan jelas. Lubang kenikmatan Mbak Karin yang bewarna merah muda dan merekah itu. Aku memandanginya sejenak. Betapa indah lubang surga Mbak Karin yang membuatku seakan tak bernafas menahan gelora dan aliran listrik yang mulai over load. Jari tengah tangan kanan Mbak Karin mempermainkan lubang surganya kekiri, kekanan, keatas, dan kebawah sehingga tampak kemaluan Mbak Karin kembang seakan kembang kempis.

Sesekali Mbak Karin Mempermainkan clitorisnya sendiri. Tak berapa lama, wajahnya yang cantik dengan rambutnya yang hitam legam dan panjang itu menengok kebelakang, matanya yang semula bulat kini redup, dan dari bibirnya yang indah Mbak Karin berkata, Kamu mau ini khan? ujar Mbak Karin yang posisinya semakin menungging untuk menunjukan keindahan ludang surganya kepada ku agar lebih jelas dan agar aku semakin gila.

Cukup sudah..! Pikirku.

Aku nggak tahan lagi. Maka aku dekatkan batang kejantananku yang sudah tegak keras keatas dengan lubang kewanitaannya yang semakin harum dan basah itu.

Ah.. sayang.. Ufhh! Aku tempelkan kepala batang ku ke clitorisnya dan aku gesekgesekan ke sekitar lubang kenikmatannya.

Sekarang sayang, sekarang. Mbak Karin sudah tidak bisa menahan hawa nasfunya. Tangan kirinya menjulur ke belakang dan meraih batang kemaluanku. Mbak Karin membimbingnya mendekati gua surga itu, dan..

Ss.. slek! secara perlahan dan mantap, batang kemaluanku telah terbenam di lubang kenikmatan Mbak Karin.

Aku dorong pantatku secara amat sangat perlahan sehingga batang kemaluanku pun masuk secara amat sangat perlahan pula. Mulai dari bagian kepala kemaluanku, kemudian bagian leher, kemudian bagian batang, hingga semuanya amblas sampai ke pangkal kelamulanku.

Ahh.. Mbak Karin dan akupun mendesah menahan kenikmatan yang tiada tara tersebut seiring dengan pergerakan batang kejantananku.

Aku sengaja tidak langsung mengocokkan kontolku, aku diamkan semua bagian kejantannanku tetap habis amblas di lubang surganya sejenak. Aku rasakan sejenak betapa rasa lembab, basah, dan hangat yang luar biasa indah menyelimuti kemaluanku. Walaupun kemaluanku masih belum bergerak, aku dapat merasakan kemaluan Mbak Karin yang tidak hanya sempit, tapi juga dapat menghisap dan menekannekan kemaluanku.

Tanpa menarik kontolku, aku gerakan pantatku kedepan tiga kali sehingga.., Bleb, bleb, bleb..! Posisi Mbak Karin pun sedikit maju karena tekanan dari ku.

Oh.., Ah.., Oh..! Desahan Mbak Karin seiring dengan tekanan tadi.

Sayang, cepat donk, pompa aku semau kamu! Pinta Mbak Karin.

Aku mulai menarik dengan perlahan kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku, kemudian aku tekan perlahan, tapi hanya sampai setengah batang kejantananku, kemudan aku tarik, aku tekan setengah, tarik, tekan, tarik tekan.. terus begitu secara berulang. Aku melakukan dengan cara yang aku baca dari buku kama sutra, yaitu, aku tarik keluar kejantananku sampai sebatas leher dan kemudian aku masukan hanya setengah dari batang kejantananku sebanyak 10 kali, dan kemudian diselingi 1 kali keluar sebatas leher dan masuk sampai amblas semua batangku dan menahannya sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Mbak Karin untuk melakukan gerakan berputar.

Crek, crek.. crek.. crek. Suara indah itu terulang sepuluh kali, diselingi dengan.. Sleb.. sebanyak sekali Plok, plok, plok, plok..! Suara yang muncul akibat benturan antara pangkal pahaku dengan pantat putih mulus Mbak Karin membuat suasana semakin indah. Memek Mbak Karin memang gila. Betapa aku tak perlu mengangkat pantatku sedikit keatas agar mendapat gesekan dan tekanan pada bagian atas batang kemaluanku, atau ke bawah agar gesekannya lebih terasa di bawah, atau kekiri, atau kekanan.., semua itu tidak perlu sama sekali. Kemaluan Mbak Karin yang benarbenar lubang surga itu sudah sangat sempit, sehingga menekan dan menggesek semua permukaan kontolku, dari ujung kepala sampai ke pangkal kemaluanku.

Aku tak bisa lagi mengatur gerakanku, semakin lama gerakanku semakin cepat, dan tekanannya pun semakin keras. Dari posisiku yang di belakang, aku dapat jelas melihat penisku keluar masuk cepat ke lubang vaginanya, dan saking pasnya, terlihat bibir vagina Mbak Karin itu tertarik keluar setiap batangku kutarik keluar.

Oughh, ough.., ah.., oh.., kamu hebat sayang. Mbak Karin terus mendesah dan meracau.

Sesekali dengan posisinya yang menungging, tangan kanan Mbak Karin kebelakang dan menyentuh perutku untuk menahan tekanan yang aku lakukan. Aneh memang, Mbak Karin menahan laju tekanan penisku dengan tangannya, tetapi Mbak Karin terus meracau..

Terus sayang, ah.., terus, terus sayang..!

Buah dada Mbak Karin terpentalpental dan desahannya benarbenar menghanyutkan, seperti suara musik terindah yang pernah aku dengar.

Ahh.. shh sshh sayang, Ohh.. enakk.. Uhh uhh.. hmm.. Enak sayang.. terus! Seru Mbak Karin.

Aowww..! Tibatiba Mbak Karin sedikit berteriak.

Kenapa Mbak, sakit ya? Tanyaku yang hanya di jawab dengan senyum dan gelengan kepalanya saja.

Teruskan sayang aku suka koq. Katanya.

Aku berpikir mungkin gerakanku terlalu kuat, ditambah liang vagina Mbak Karin yang begitu sempitnya. Maka aku ambil inisiatif untuk mengangkat kaki kanannya. Aku angkat kaki kanannya agar lubang surga Mbak Karin sedikit lebih longgar, sehingga Mbak Karin dapat lebih menikmatinya.

Oghh, ff, sayang kamu memang hebat! Katanya.

Karena gesekan yang terjadi sedikit berkurang, aku semakin cepat melakukan gerakan maju mundur dengan sedikit gerakan keatas akibat terangkatnya kaki kanan Mbak Karin dengan tangan kananku. Semua hal itu tidak mengurangi kenikmatan yang aku rasakan, bahkan percintaan kami menjadi lebih variatif, sampai suatu saat aku turunkan lagi kaki kanannya dan kedua tanganku memegang pinggulnya kuatkuat sambil sesekali meremas pantatnya yang bulat indah itu. Dan..

Oughh.. sayang.. aku keluar..! Vagina Mbak Karin kurasakan semakin licin dan hangat, tapi denyutannya semakin terasa.

Aku dibuat terbang rasanya. Aku hentikan gerakan maju mundurku, sekarang aku benamkan seluruh batang penisku ke liang vagina Mbak Karin sambil terus mendenyutkan batang kemaluanku. Aku tekan dengan kuat penisku sambil menahan pinggulnya yang indah. Aku yakin benar, denyutan yang aku buat di batang kemaluanku dan tekanan hebat terhadap kewanitaannya membuat orgasme Mbak Karin makin hebat dirasakannya. Terbukti dari kenikmatan orgasmenya itu, sekonyongkonyong membuatnya terbangun dari posisi nunggingnya disertai kedua tanggannya menjambak rambut kepalaku dengan kuat dan wajahnya yang menyeringai menahan gejolak kenikmatan surgawi.

Huff, huff, huff..! Nafas Mbak Karin menunjukan dia baru saja mengalami sensasi elektrikal yang hebat menjalar di tubuhnya.

Tubuhnya sedikit lemas. Aku tahan beban tubuhnya dengan tangan kiriku yang kemudian melingkari pinggulnya yang padat dan mulus itu sementara tangan kananku mengambil kursi tadi dan kemudian aku duduk di kursi itu sambil memangku dan menciumi bibirnya yang merah merekah.

Oh sayang, aku keluar, oh enaknya. Mbak Karin berbisik padaku sambil sesekali mencium telingaku.

Batang kejantananku pun masih terbenam di dalam kewanitaannya. Apa lagi dengan Mbak Karin di pangkuanku, membuat batang kemaluanku amblas habis sampai di pangkalnya. Hanya saat ini tidak terjadi gerakangerakan yang berarti.

Kamu belum keluar ya? Tanya Mbak Karin, aku diam saja dengan sedikit menggelengkan kepala.

Aku biarkan Mbak Karin berbicara, karena memang aku menikmatinya. Aku biarkan Mbak Karin beristirahat sebentar sambil menciumi wajah ku disertai tangannya yang terusterusan meraba biji pelerku. Rasa hangat di batang kemaluanku masih begitu terasa, ingin rasanya aku gerakan lagi. Tapi aku bersabar, aku biarkan bidadariku mengumpulkan tenaganya untuk pertarungan tahap berikutnya. Tak berapa lama, aku coba mendenyutkan batangku.

Ah, aow.. geli dong sayang..! Mbak Karin berceloteh sambil disertai tawanya yang manja.

Kamu masih kuat nggak, sayang? Aku tidak lagi terdiam, pertanyaan ini harus kujawab.

Masih donk, Mbak. Kataku, aku masih tetap untuk berusaha menahan diri.

Pindah ke kamarku yuk? Ajak Mbak Karin.

Tapi jangan di lepas ya sayang, punyaku masih betah sama punyamu. Celoteh Mbak Karin.

Secara perlahan dan berhatihati aku bangun dari kursi itu. Dengan posisi membelakangiku, aku bawa Mbak Karin keatas meja. Dan secara perlahan aku putar tubuh Mbak Karin dengan amat sangat hatihati karena Mbak Karin tidak ingin kontolku terlepas dari memeknya, begitu pula aku. Dengan sedikit kerjasama, akhirnya kami berdua sudah saling berhadapan. Mbak Karin langsung ku gendong dengan penisku yang masih tatap tertanam. Kedua belah kaki panjang Mbak Karin mengempit pinggangku eraterat. Aku pun melangkah ke kamar Mbak Karin.

Sesampai di kamar, aku rebahkan tubuh Mbak Karin di tempat tidur yang masih rapi. Tampak olehku kedua susu Mbak Karin yang indah. Puting susu yang kemerahan itu membuatku langsung melumatnya. Mbak Karin hanya bisa mendesah dan menggigit bibir bawahnya. Ketika aku baru menggerakan pantatku keatas Mbak Karin, menghentikan gerakanku..

Sayang, tadi kamu yang kerja, sekarang giliran aku donk!

Aku pengen di atas ya! Belum sempat aku jawab, Mbak Karin sudah mendorong tubuhku, sehingga aku mau nggak mau merebahkan tubuhku diatas kasur empuk tadi. Mbak Karin sekarang sudah ada di atasku tepat membentuk sudut 90 derajat dengan tubuhku.

Luruskan kakinya sayang! Perintah Mbak Karin sambil memegang kedua pahaku dan meluruskan kakiku.

Kedua tangan Mbak Karin kemudian memegang kedua puting susunya dan meremas kedua payudaranya sendiri, dan mulai menangkat pantatnya dan menurunkannya kembali. Saat ini dialah yang memompaku. Aku baru sadar, bahwa Mbak Karin saat ini tiada lain adalah kuda liar yang tak terkendali. Dia bergerak keatas dan kebawah yang kemudian di selingi dengan memutarkan pinggulnya yangjuga disambung dengan gerakan maju mundurnya.

Maju, mudur, atas, bawah, kiri, kanan, putar. Serasa penisku dipermainkan seenaknya. Mbak Karin menjadikan batang kemaluanku sebagai budak nafsunya. Kedua tanganku sibuk meremasremas payudaranya, memelintir dan mencubit punting susunya, dan memegang pinggulnya.

Sesekali dia membungkukkan badannya untuk menciumiku. Aku tidak diijinkannya untuk bangun dan mencium bibir atau pun buah dadanya. Saat ini dia terus memegang kendali. Kontolku semakin panas, rasa nikmat menjalar keseluruh tubuhku.

Oh.. Mbak Karin, terus Mbak..! Aku mulai meracau.

Betapa liarnya wanita ini. Rasa hangat dan nikmat yang tak terhingga mulai merambah batang kejantananku yang semakin lama mulai aku rasakan desiran yang hebat. Aku memejamkan mata dan meremas pinggul dan susu Mbak Karin. Aku tahan gejolak kenikmatan surgawi ini. Aku tak ingin benteng pertahananku Bobol, sebelum bidadari diatasku memuaskan diri memperbudak batang kemaluanku.

Kempotan memek Mbak Karin semakin lama semakin kuat. Kemaluanku terasa terjepit dan semakin terjepit. Basah, lembab, licin, dan hangat menjadi satu menciptakan sensasi kenikmatan yang luar biasa. Aku berusaha menahan serangan sang bidadari. Kejadian tersebut terus berulang. Nafas kita berdua menderuderu. Tubuh kami penuh dengan keringat.

Oh.. Ah.. Oh.., Oughh, Off, Aowww..! Mbak Karin pun sudah tidak lagi mendesah.

Desahannya di ganti dengan teriakan dan jeritan kecil. Gerakannya makin liar. Aku merasa kasihan melihat batangku diperbudak sedemikian rupa, tapi apa daya, kenikmatan yang aku rasakan lebih dari segalanya di dunia ini. Mendadak kulihat tubuh Mbak Karin mengejang. Mbak Karin menengadahkan kepalanya. Urat lehernya nampak, dia berteriak kecil.

Aaoowww..!

Kurasakan semburan lava panas menyelimuti batangku yang masih terbenam.

Oh..! kataku.

Nikmat sekali rasanya. Mbak Karin menjatuhkan tubuhnya didalam pelukanku. Dia mengalami orgasme lagi, hanya kali ini dia tidak mampu berkata apaapa lagi. Tampak betapa lelahnya dia. Tapi untuk kali ini aku tak bisa memberi waktu lagi untuk Mbak Karin beristirahat. Aku sidah hampir dipuncak, mulai terasa olehku puncak kenikmatan yang sebentar lagi aku rasakan. Aku balikan tubuhku sehingga tubuh mulus Mbak Karin ada di bawahku.

Oh sayang, aku tadi keluar lagi..!

Aku sudak cap.. Belum sempat dia selesaikan ucapannya, aku sumpal kedua belah bibirnya dengan mulutku. Aku bimbing kedua betis Mbak Karin agar bertumpu di kedua bahuku. Aku mulai memompa dengan cepat dan dahsyat.

Oh..sayang, kamu cepat keluar ya sayang..!

Aku sudah mulai lelah!

Aku terdiam dan hanya terus memompa kemaluanku sampai amblas dan menariknya keluar sampai sebatas leher. Aku sudah tidak dapat mengendalikan tubuhku sendiri. Seakan tubuhku bisa bergerak sendiri semaunya.

Oh.. ampun sayang..! Desah Mbak Karin

Aku sedikit takut, jikalau Mbak Karin tidak bisa memuaskan aku saat itu. Tapi aku tak perduli. Aku kemudian berinisiatif, aku keluarkan sejenak kontol ku dari lubang hangat Mbak Karin sejenak, kemudian aku angkat pinggul Mbak Karin dan aku ambil tiga buah bantal untuk mengganjal pantat Mbak Karin. Sehingga Vagina Mbak Karin terbuka dan terlihat Itil Mbak Karin yang mencuat. Keindahan vagina Mbak Karin yang berwarna merah muda dan dihiasi dengan clitorisnya yang kecil mungil itu membuatku semakin buas.

Aku arahkan dan aku masukkan kembali batangku kedalam lubang surga milik Mbak Karin tersebut. Hanya kali ini aku memasukkannya dengan cepat dan tepat tanpa basabasi lagi. Lalu aku memompanya dan terus memompanya dengan cepat sekali sambil jarijemari tangan kananku mempermainkan clitorisnya.

Entah mengapa, teriakan dan desahan Mbak Karin berubah lagi, yang asalnya, Aku capek sayang, ampun.., aku capek..!, telah Berubah menjadi.., Terus sayang, aku sanggup keluar sekali lagi.. terus sayang.. teruuss!

Desahan dan jeritan kecil itu membuatku semakin semangat. Aku genjot terus, terus dan terus..!

Oh sayangku, aku mau keluar lagi..! Kata Mbak Karin.

Sebentar sayang, sebentar lagi aku juga keluar.. taah.., ttahan dulu ya sayang..! Aku mulai nggak keruan.

Genjotan kontolku, goyangan pinggul Mbak Karin, dan kempotan memek Mbak Karin. Membuat segalanya tak terkendali. Ketika kulihat Mbak Karin mulai menengadahkan kepalanya dan urat lehernya mulai mengejang. Aku segera mempercepat genjotanku, dan akhirnya..

Aakkhh..! Kami berdua berteriak kecil, kedua tangan Mbak Karin memegang pantatku dan menekannya dengan keras kearah memeknya sampai kejantananku amblas habis tak bersisa satu mili pun. Aku membungkukan badanku dan menyelipkan pergelangan tanganku ke ketiaknya dan telapak tanganku mengangkat kepalanya sehingga aku bisa mencium bibirnya.

Crot.. serr.. crot.. serr.. crot.. ser..

Entah berapa kali cairan puncak kenikmatan surgawi ku menyembur dan bertemu dengan cairan kenikmatan tiada tara nya Mbak Karin. Cairan kenikmatan kami saling bertemu di dalam vagina Mbak Karin. Mungkin sekitar 40 atau 50 detik, kita berdua saling merengkuh puncak kenikmatan itu. Kehangatan yang amat sangat indah itu menyelimuti kejantananku.

Kontolku terus berdenyut seiring dengan memek Mbak Karin yang juga berdenyut. Kita berdua tidak sanggup lagi berkata apapun juga. Tubuh Mbak Karin tergeletak di samping tubuhku. Aku berusaha untuk mengangkat tubuhnku dengan tenagaku yang terakhir.

Aku cium bibirnya dan Mbak Karin pun berkata, Yy.. yang terakhir itu.. ad.. adalah or.. orgg.. orgasme ku yang paling lama.., lalu kami berdua pun tidur saling berpelukan sampai keesokan paginya.

Semenjak itu kami bagaikan sepasang burung yang sedang kasmaran. Diluar kesibukan kami seharihari selalu kami gunakan untuk bercinta dan bercinta. Tiada hari yang kami lewatkan tanpa sex. Kami pun sering membaca buku tentang sex agar kami berdua selalu bisa terpuaskan, dan yang paling penting, memuaskan. Kami pun tak tahu waktu dan tempat.

Kadang kami melakukannya di Garasi, di meja dapur, di sofa, di dalam mobil, di kamar mandi, di kolam renang, di halaman rumah, di atas rumput, bahkan kami pernah melakukannya di dalam lift sebuah Mall yang saat itu mendadak macet dan kami terjebak di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

cerita dewasa cerita seks cerita hot Cerita Dewasa Indonesia © 2017 Frontier Theme